Mengenal PLTS Likupang, Ladang Panel Surya Terbesar di Indonesia

PLTS Likupang di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara. (Foto: KESDM)

Minahasa Utara – Di Desa Wineru, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Sulawesi Utara, terhampar sebanyak 64.620 panel surya yang tersusun rapi. Ribuan panel surya itu membentang di atas lading seluas 29 hektare. Alat penangkap sinar matahari itu difungsikan oleh Vena Energy sebagai sumber energi listrik baru sejak 5 September 2019.

Adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Likupang, dibangun sejak Power Purchase Agreement (PPA) tahun 2017 akhir dan memakan waktu sekitar 1,5 tahun dengan total biaya investasi mencapai USD 29,2 juta. Pembangkit tersebut memiliki 120 arry box, 24 set inverter dan 6 PV box.

Selama puncak kegiatan konstruksi, PLTS Likupang mampu menyerap hingga 900 pekerja lokal. Saat beroperasi, 80 persen pekerjanya merupakan masyarakat sekitar. Selama beroperasi, pembangkit ini mampu melistriki hingga 15.000 rumah tangga serta mengurangi efek gas rumah kaca hingga 20,01 kilo ton.

Sementara Vena Energy merupakan perusahaan produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) yang fokus dalam pengembangan pembangkit listrik surya serta angin. Selain PLTS Likupang, Vena juga merupakan produsen listrik swasta untuk pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB) Tolo di Janeponto yang berkapasitas 72 MW serta 3 PLTS di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan kapasitas masing-masing 7 Mega Watt Peak (MWp).

PLTS Terbesar di Indonesia

Country Head Vena Energy Arisudono Soerono menjelaskan, rata-rata setiap harinya PLTS Likupang menyalurkan listrik mencapai 15 MW meskipun memiliki kapasitas terpasang 21 MWp. “Jam beroperasi selama 12 jam, mulai dari jam 05.30 pagi sampai matahari terik bisa 15 MW, kalau enggak ya menurun. Kalau hujan bisa masuk 3 MW. Itu sampai jam 17.30,” kata Ari, dikutip dari laman KESDM.

Dengan jumlah kapasitas terpasang tersebut, Ari menilai PLTS Likupang menjadi PLTS terbesar di Indonesia hingga saat ini dan sebagai penopang sistem kelistrikan jaringan Perusahaan Listrik Negara (PLN) Sulutgo (Sulawesi Utara-Gorontalo) sebesar 15 MWp. “Ini merupakan (PLTS) terbesar di Indonesia sebelum adanya PLTS Terapung di Cirata nanti,” jelas Ari.

Selanjutnya, Ari menjelaskan kemampuan konversi dari tegangan 800 Volt DC ke 380 Volt AC mengakibatkan adanya losses (susut) sebanyak 6 MW. Setelah itu, sistem produksi listrik PLTS Likupang langsung terhubungan secara online dengan jaringan listrik milik PLN.

“Pembangkit ini online grid, setiap kWh kita produksi, kita langsung kirim ke PLN secara online tanpa (storage) baterai,” kata Ari.

Ia memastikan, meskipun tidak sepanjang hari listrik dihasilkan, tapi dari sisi harga jauh di bawah harga listrik yang menggunakan BBM atau Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). “Yang jelas di bawah harga PLTD, jauh lebih murah,” tegasnya.