Tahun Ini Bulog Merauke akan Menyerap 31.150 Ton Beras Petani

Tahun 2020, Bulog Sub Drive Merauke mempunyai target penyerapan sebanyak 31.150 ton beras dari petani Merauke. (Foto: Humas Bulog)

Merauke – Tahun 2020, Bulog Sub Drive Merauke mempunyai target penyerapan sebanyak 31.150 ton beras dari petani Merauke. Angka ini, terjadi kenaikan dari target penyerapan 2019 yakni 29.250 ton.

Kenaikan ini dengan pertimbangan dilihat dari luas tanam dan pembukaan lahan baru di Merauke terus dilakukan dan hasil produksi setiap panen melimpah.

“Bahkan target 2019 melebihi 109 persen, sehingga oleh Provinsi menaikan kuota penerimaan tahun 2020 di Bulog Merauke,” terang Kepala Bulog Sub Drive Merauke, Djabiruddin, Selasa (28/01/2020) di Merauke.

Lakukan Kerjasama

Peningkatan target penyerapan ini tentu mempunyai tantangan. Bulog bisa saja menerima beras petani sebanyak-banyaknya, tapi kapasitas gudang penampungan tidak mencukupi.

“Solusi pertama adalah, Pemda Merauke harus punya loby kerjasama pemasaran beras Merauke ke luar Merauke. Lebih khusus untuk seluruh wilayah Paua dan Papua Barat” jelasnya.

Pemerintah Daerah diharapkan dapat memberi masukan ke Pemerintah Provinsi Papua melaui Gubernur, supaya mempunyai kebijakan agar beras dari luar Papua dilarang masuk ke Papua sehingga kebutuhan beras seluruh Papua dan Papua Barat dapat dipasok dari Merauke.

Selain melakukan ekspor ke negara tetangga yang membutuhkan proses cukup lama, lebih mudah mendahulukan untuk wilayah Papua dengan jangkauan yang tidak sesulit ke luar negeri.

“Kalau itu yang diambil adalah kebijakan gubernur, saya rasa bisa,” tandas Djabiruddin.
Dengan harapan, pengiriman keluar terus dilakukan, gudang Bulog mempunyai ruang untuk mengambil lagi dari petani sehingga tidak terjadi macet atau penumpukan.

Djabiruddin mengatakan, penyerapan tahun ini sudah mulai dilakukan, namun belum banyak petani yang menjualkan berasnya ke Bulog. Namun ia tekankan, beras yang diambil adalah beras dengan kualitas bagus atau standar.

“Berasnya dengan kualitas standar. Jangan yang tidak standar, nanti jadi ribut. Dikira Bulog menolak beras yang sudah diantar,” ujarnya.