Potensi SDA Indonesia Melimpah, Kementerian ESDM Tingkatkan Nilai Tambah

Menteri ESDM saat mengunjungi Badan Geologi di Bandung (Foto: Kementerian ESDM)

Bandung —  Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang ada di Indonesia sudah semestinya memberikan nilai tambah kepada perkonomian masyarakat. Tujuan ini menjadi misi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif dalam memimpin Kementerian ESDM selama lima tahun mendatang.

Dalam arahannya kepada seluruh pegawai Badan Geologi di Bandung, pada Jumat (03/01/2020). Menteri ESDM mengungkapkan tugas Kementerian ESDM untuk meningkatkan nilai tambah SDA.

“Kementerian ESDM memiliki misi bagaimana melaksanakan tugas kita untuk bisa memberikan nilai tambah terhadap sumber daya alam yang kita miliki. Inilah yang harus menjadi tujuan kita bersama,” tegasnya.

Ia mengungkapkan, melalui peningkatan nilai tambah Kementerian ESDM akan berkontribusi dalam peningkatan devisa negara sehingga mampu menopang laju pertumbuhan ekonomi.

“Devisa akan meningkat dan akan menujang program-program pertumbuhan ekonomi. Kita bisa membangun infrastruktur dengan baik melalui modal itu sesuai arahan Presiden,” ungkapnya.

Kondisi selama ini, tambahnya, dimana SDA lebih banyak dimanfaatkan sebatas komoditas Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Padahal kondisi tersebut tak mampu berperan besar dalam melanjutkan tranformasi pembangunan seperti yang diamanatkan Presiden Joko Widodo.

“Negara kita ini sangat banyak memiliki sumber daya alam, mineral dan energi, saya tak bilang kaya, sayangnya semuanya belum terkelola dengan baik. Belum memberikan nilai tambah yang optimal bagi kita semua. Kita lebih memanfaatkan untuk PNBP,” jelasnya.

Ia mengaku, saat ditunjuk oleh Presiden, pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi menjadi fokus utama.

“Saya ingin melakukan penyegaran-penyegaran di sektor ini,” pungkasnya.

Potensi SDA Indonesia Melimpah

Indonesia sendiri terbilang memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah. Di subsektor migas, cadangan minyak Indonesia yang tercatat saat ini 3,8 miliar barel. Lalu, dari sisa cekungan yang belum dieksplorasi yakni sebanyak 74 cekungan menyimpan potensi minyak 7,5 miliar barel.

Selain minyak, Indonesia tercatat memiliki cadangan gas sebanyak 135,55 trillion standard cubic feet (TSCF). Cadangan gas tersebut tersebar di beberapa lokasi dengan pembagian P1 atau terbukti 99,06 TSCF, P2 atau cadangan potensi sebesar 21,26 TSCF dan P3 (cadangan harapan) sebanyak 18,23 TSCF.

Dalam subsektor Energi Baru Terbarukan (EBT), Indonesia memiliki potensi panas bumi (11 GW), angin (60,6 GW), bioenergi (32,6 GW), air dan mikrohidro (94,3 GW), surya (207,8 GWp) dan laut (17,9 GW). Total, Indonesia memiliki 442 GW potensi EBT dan baru diutilisasi sebesar 2,1% atau 9 GW.

Di subsektor minerba, cadangan batu bara terbukti kini menyentuh 39,89 miliar ton. Sementara cadangan komoditas tembaga sebesar 2,76 miliar ton. Jumlah tersebut sama dengan cadangan produksi bijih selama 39 tahun.

Cadangan komoditas nikel sebanyak 3,57 miliar ton dengan produksi tambang per tahun 17 juta ton bijih. Umur cadangan berdasarkan produksi bijih 184 tahun. Selanjutnya, untuk logam besi cadangannya sebanyak 3 miliar ton dengan produksi bijih besi dan pasir besi 3,9 juta ton per tahun, dan konsentrat besi 3,1 juta on. Umur cadangan berdasarkan produksi bijih 769 tahun.

Bauksit memiliki cadangan 2,4 miliar ton dengan umur cadangan 422 tahun; emas cadangannya 1.132 Au dengan umur 28 tahun. Sementara perak cadangan 171.499 ton Ag dengan umur cadangan 1.143 tahun. Serta timah cadangan 1,5 juta ton Sn, umur cadangan 21 tahun.