Ditjen Migas Beri Penghargaan 23 Badan Usaha yang Memanfaatkan Flare Gas, Sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2012

Ditjen Migas saat memberi apresiasi kepada 23 badan usaha yang memanfaatkan flare gas (Foto: Ditjen Migas)

THE ENERGY BUILDING, Jakarta − Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi memberikan penghargaan kepada 23 badan usaha atau bentuk usaha tetap atas komitmennya mendukung penurunan gas rumah kaca dan inisiasi Zero Routine Flaring 2030 pada kegiatan usaha hulu maupun hilir migas. Potensi maksimal penurunan gas suar bakar  atau flare gas dari seluruh badan usaha tersebut sekitar 61 mmscfd.

Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Adhi Wibowo, mengungkapkan pemerintah memberi apresiasi pemanfaatan flare gas.

“Pemerintah mengapresiasi pemanfaatan flare gas atau gas suar bakar yang  tadinya dilepas saja, tapi kini digunakan untuk yang lain, seperti  program gas kota, maupun own use genset,” ujarnya.

Hal tersebut disampaikannya, pada acara Forum Apresiasi Zero Routine Flaring pada Kegiatan Usaha Migas di The Energy Building, Jakarta, Selasa (21/01/2020).

Pemanfaatan flare gas untuk program gas kota, lanjutnya, berdampak besar bagi masyarakat, terutama kelas bawah karena menghemat biaya untuk memasak.

“Gas  yang dibutuhkan hanya sedikit sekitar 1 mmscfd, namun manfaatnya besar bagi masyarakat bawah. Kami berterima kasih atas upaya-upaya yang dilakukan badan usaha untuk memanfaatkan flare gas ini,” tambahnya.

Gas suar bakar adalah gas yang dihasilkan oleh kegiatan eksplorasi dan produksi atau pengolahan minyak atau gas bumi yang dibakar secara kontinyu maupun yang tidak kontinyu karena tidak dapat ditangani oleh fasilitas produksi atau pengolahan yang tersedia, sehingga belum termanfaatkan, tidak termanfaatkan atau belum dapat terjual secara ekonomis.

Forum Apresiasi Zero Routine Flaring pada Kegiatan Usaha Migas bertujuan meningkatkan pemanfaatan atau penurunan gas suar bakar di kegiatan usaha migas serta mendapatkan informasi pemanfaatan gas suar bakar di beberapa lapangan migas dan kilang bagi badan usaha. Kegiatan ini merupakan kerja sama  Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas dengan ITB dan World Bank.

Kegiatan pembinaan pemanfaatan gas suar bakar atau flare gas oleh badan usaha merupakan salah satu rencana strategis Kementerian ESDM tahun 2015 hingga 2019.  Pemanfaatan gas suar bakar  juga dapat mengurangi impor gas bumi karena dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik, sebagaimana arahan Menteri ESDM dan Presiden Joko Widodo dalam mengatasi defisit neraca perdagangan dan transaksi berjalan migas.

Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2012

Direktur Teknik dan Lingkungan Migas, Adhi Wibowo , mengungkapkan, pada tahun 2019, sebanyak 66 badan usaha hulu migas dan 13 badan usaha hilir migas  telah melaporkan kegiatan pembakaran gas suar sesuai Peraturan Menteri ESDM Nomor 31 tahun 2012 tentang Pelaksanaan Pembakaran Gas Suar Bakar (Flaring) pada kegiatan usaha migas.

Jumlah pelaporan tahun 2018 dan 2019 menunjukan peningkatan dibandingkan sebelumnya, terutama di sektor hilir, yang ditandai dengan bertambahnya jumlah laporan yang secara rutin dikirimkan oleh kilang-kilang Pertamina dan kilang minyak serta gas lainnya. Berdasarkan data yang masuk, volume pembakaran gas suar bakar pada kegiatan usaha hulu migas tahun 2019 sebesar 140,71 mmscfd dan hilir sebesar 18,4 mmscfd.

Peningkatan pelaporan ini merupakan hasil kegiatan pembinaan Direktorat Teknik dan Lingkungan Migas melalui serangkaian workshop, rapat pembahasan serta sharing session dengan mengundang badan usaha dan bentuk usaha tetap sektor hulu dan hilir migas. Selain itu, adanya Surat Edaran Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Nomor 1261/18.05/DMT/2019 pada tanggal 23 Juli 2019 perihal Program Pemanfaatan Gas Suar.

“Pada surat tersebut setiap badan usaha atau bentuk usaha tetap, diminta menyampaikan program pemanfaatan gas suar yang akan dijalankan, timeline pelaksanaan dan target penurunan gas suar,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Program Manager of the World Bank’s Global Gas Flaring Reduction Partnership, Zubin Bamji, menyampaikan penghargaan kepada Pemerintah Indonesia   yang berupaya mengurangi emisi gas rumah kaca pada COP 21 2015 di Paris dan dukungan terhadap inisiatif Zero Routine Flare Global.

“Indonesia merupakan salah satu negara terdepan yang berpartisipasi dalam pengurangan produksi flare gas,” katanya.