Potensi Batubara Menjanjikan, Pemerintah Patok HBA untuk Desember 2019

Nilai HBA (Harga Batubara Acuan) untuk Desember 2019 ditetapkan (Foto: Kementerian ESDM)

Jakarta — HMA adalah salah satu variabel dalam menentukan Harga Patokan Mineral (HPM) logam berdasarkan formula yang diatur dalam Kepmen ESDM Nomor 2946 K/30/MEM/2017 tentang Formula Untuk Penetapan Harga Patokan Mineral Logam. Variabel penentuan HPM logam lainnya adalah nilai/kadar mineral logam, konstanta, corrective factor, treatment cost, refining charges, dan payable metal.

Besaran HMA ditetapkan oleh Menteri ESDM setiap bulan dan mengacu pada publikasi harga mineral logam pada index dunia, antara lain oleh London Metal Exchange, London Bullion Market Association, Asian Metal dan Indonesia Commodity and Derivatives Exchange (ICDX).

Pada Kamis (12/12/2016), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Arifin Tasrif, menetapkan harga jual pasar untuk komoditas batubara di bulan Desember 2019 sebesar USD66,30 per ton atau naik tipis USD0,3 per ton dari Harga Batubara Acuan (HBA) November sebesar USD66,27 per ton.

Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM, Agung Pribadi, mengatakan bahwa ketetapan ini mangacu pada Keputusan Menteri Nomor 246 K/30/MEM/2019. Kenaikan HBA Desember 2019 adalah peningkatan permintaan untuk stok batu bara menjelang musim dingin. Kenaikan ini merupakan kali ketiga HBA bulanan mengalami kenaikan sejak Agustus 2018 dan mencatatkan angka terendah selama dua tahun terakhir dalam rerata tahunan.

“Rata-rata HBA dari Januari-Desember 2019 mencapai USD77,89 per ton, lebih kecil memang dibanding rerata HBA tahun 2017 yang sebesar USD85,92 per ton, dan HBA tahun 2018 yang mencapai USD98,96 per ton. Kondisi ini tak lepas dari tekanan permintaan pasar,” Agung menambahkan.

Nilai HBA sendiri diperoleh rata-rata empat indeks harga batubara yang umum digunakan dalam perdagangan batubara dunia, yaitu Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Globalcoal Newcastle Index (GCNC), dan Platt’s 5900 pada bulan sebelumnya.

HBA bulan Desember akan digunakan untuk penjualan langsung (spot) selama satu bulan pada titik serah penjualan secara Free on Board di atas kapal pengangkut (FOB Veseel).

Sementara itu, mayoritas harga acuan untuk 20 mineral logam (Harga Mineral Acuan/HMA) juga mengalami fluktuasi harga di bulan Desember 2019.

Potensi Batu Bara di Indonesia Menjanjikan

Indonesia  memiliki potensi batu bara yang begitu besar serta menjanjikan jika terus dikembangkan. Cadangan batubara  di Indonesia cukup tinggi, sehingga memungkinkan pemanfaatannya, untuk dijadikan energi listrik menggantikan minyak bumi.

Hal tersebut terungkap dalam Seminar Nasional Geologi memperingati Lustrum Teknik Geologi Universitas Diponegoro, di Kota Semarang, Jawa Tengah pada Minggu (6/12/2019). Seminar diisi oleh Ketua Departemen Sertifikasi Masyarakat Geologi Ekonomi Indonesia Iwan Munajat, Manajer Diklat PT Bukit Asam Muhammad Hatta , Manajer Sumber Daya Manusia PT Timah R Eko Purwanto, dan Trijayanto Poespito dari PT Newmont Nusa Tenggara.

Manajer Diklat PT Bukit Asam, Muhammad Hatta, mengungkapkan bahwa data dari Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, produksi batu bara di tahun 2009 mencapai 225 juta ton, yang terbagi atas 75 juta ton untuk pemanfaatan dalam negeri dan 150 juta ton untuk ekspor. Produksi tersebut meningkat dibandingkan tahun 2008 (198 juta ton) dan tahun 2007 (196 juta ton).

“Cadangan batu bara yang terdapat di Indonesia dan bisa ditambang mencapai 9 miliar ton atau 1,2 persen dari keseluruhan total cadangan batu bara di dunia. Di dalam negeri, batu bara digunakan untuk energi listrik dan bahan bakar industri,” ungkapnya.

Iwan Munajat mengatakan, tingginya produksi batu bara belum diikuiti dengan optimalisasi pemanfaatannya karena masih tingginya ketergantungan terhadap minyak bumi sebagai sumber energi. Belum digunakannya sumber energi lain karena masih terkendala oleh minimnya teknologi pemanfaatan dan kesadaran yang terlambat muncul.

Dijelaskan lebih lanjut bahwa, saat ini, sumber energi yang masih banyak digunakan adalah minyak, bumi penggunaan minyak bumi sebagai sumber energi pada tahun 2006 mencapai 53 persen, batubara 22 persen, gas bumi 21 persen, dan energi lainnya 4 persen.

Pada tahun 2025, diperkirakan terjadi perubahan pemanfaatan sumber energi, yaitu batu bara (33 persen), gas bumi (30 persen), minyak bumi (21 persen), dan energi lain (17 persen).

“Kesadaran ini muncul karena cadangan minyak bumi semakin menipis dan akan habis suatu saat nanti, pemanfaatan minyak bumi sebagai sumber energi untuk listrik perlahan akan tergantikan oleh batubara karena potensinya yang begitu besar. Potensi sumber daya mineral di Indonesia selain batu bara sangat besar dan belum banyak digarap investor,” kata Iwan.

Ia mengungkapkan bahwa, kendala yang muncul adalah adanya ketidakpastian perundang-undangan, tidak sinkronnya pemerintah pusat dan pemerintah daerah, serta adanya tumpang tindih pemanfaatan lahan dengan kehutanan.

Berdasarkan survei Frasser Institute tahun 2008-2009, dari 71 negara penghasil sumber daya mineral Indonesia menduduki peringkat ke-7 dari segi potensi tetapi menduduki peringkat ke-41 dari segi daerah yang menjadi target investor.