Ditjen Migas Lanjutkan Program Konversi

Sebanyak 705 paket konkit diserahkan kepada masing-masing 580 paket untuk nelayan di wilayah Wajo, Sulawesi Selatan. (Foto: esdm)

Sulawesi Sebanyak 705 paket konkit diserahkan kepada masing-masing 580 paket untuk nelayan di wilayah Wajo, Sulawesi Selatan dan 125 nelayan Penajam Pasem Utara Kalimantan Timur menerima pemberian paket konverter kit LPG 3 Kg pada Kamis (21/11) minggu lalu.

Pemberian Konkit ini merupakan program lanjutan dari Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas). Program konversi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) ke Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk ditujukan kepada para nelayan kecil bertonase 5 GT (Gross Tonnage/Tonase Kotor).

“Kita (Pemerintah) ingin teman-teman nelayan punya daya beli yang cukup. Salah satu caranya dengan Program Konrversi BBM ke BBG ini. Kalau kita membandingkan biaya melaut dengan menggunakan LPG dengan bensin, bedanya cukup lumayan,” jelas Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Alimuddin Baso saat mendistribusikan bantuan di di Pusat Pelelangan Ikan 45 Kelurahan Watalipue, Kab. Wajo yang juga dihadiri oleh Wakil Bupati Wajo Amran.

Untuk Kabupaten Wajo, pembagian paket konkit LPG 3 Kg ini merupakan kali kedua di wilayah tersebut dimana pada tahun 2018 lalu telah dibagikan 582 paket konkit serupa. Secara keseluruhan, nelayan di Kabupaten Wajo telah menerima 1.162 unit.

Wakil Bupati Penajam Paser Utara Hamdam mengungkapkan, terima kasih kepada kebijakan Pemerintah yang memperhatikan kondisi ekonomi para nelayan kecil. Bantuan konkit nelayan membantu ekonomi nelayan.

“Bantuan yang diberikan ini tidak boleh dipindahtangankan, disewakan atau diperjualbelikan. Malah harus dirawat dengan sebaik mungkin, mengingat bantuan ini demi kesejahteraan hidup para nelayan sasaran yang berada di Penajam Paser Utara,” terangnya.

Kebutuhan BBM Nelayan

Sebagai perbandingan, setiap kali melaut, nelayan Wajo membutuhkan BBM sebanyak 5 liter atau sekitar Rp 50.000. Sementara dengan menggunakan LPG, dibutuhkan sekitar 1 tabung seharga Rp 20.000.

“Isi tabung LPG 3 kg itu ekuivalen dengan 7 liter bensin. Lumayan bisa menghemat Rp 30.000 sekali melaut. Mungkin nelayan yang tadinya mau beli baju sekolah anak tidak bisa, sekarang bisa karena adanya tambahan uang ini,” ungkap Ali.

Di sisi lain, pemilihan elpiji sebagai bahan bakar dipertimbangakan karena para nelayan sudah akrab atau familiar terhadap elpiji serta mempu membuat kinerja mesin penggerak relatif sama untuk motor berdaya rendah.

“Program konkit ini sebenarnya ditujukan supaya biaya operasional nelayan lebih rendah sehingga pendapatan nelayan bisa membaik. Dengan konverter kit berbahan bakar elpiji, nelayan bisa menghemat biaya operasional penggunaan elpiji sampai dengan sekitar 30% dengan asumsi tanpa ada subsidi. Bila dengan subsidi yang berlaku sekarang ini baik untuk bensin maupun elpiji, maka penghematan yang diperoleh bisa mencapai sekitar 50%,” papar Direktur Pembinaan Usaha Hulu Migas, Mustafid Gunawan di Kab. Penajam Paser Utara.

Sebagai informasi, pembagian paket perdana konverter kit BBM ke LPG terdiri atas beberapa komponen yaitu mesin penggerak, konverter kit, as panjang, baling-baling, 2 buah tabung elpiji 3 kg, as panjang dan baling-baling, serta aksesoris pendukung lainnya (reducer, regulator, mixer, dll).

Adapun kriteria nelayan yang mendapatkan paket konverter kit BBM ke BBG sesuai Perpres No.126 Tahun 2015 tentang Penyediaan, Pendistribusian dan Penetapan Harga LPG untuk Kapal Perikanan bagi Nelayan Kecil antara lain nelayan yang memiliki kapal ukuran di bawah 5 Gross Tonnage (GT), berbahan bakar bensin atau solar dan memiliki daya mesin di bawah 13 Horse Power (HP).