Badan Geologi Kementerian ESDM Adakan Edukasi Mitigasi Bencana

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengadakan edukasi kepada masyarakat. (Foto: esdm)

Bengkulu- Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengadakan edukasi kepada masyarakat terkait pengetahuan angkah-langah tepat yang perlu dilakukan saat bencana geologi terjadi.

Menurut keterangan dari Ketua Tim Edukasi Bencana Geologi, Akhmad Solikhin Badan Geologi melakukan edukasi kepada masyarakat Bengkulu, salah satu wilayah yang rawan terhadap terjadinya bencana geologi. Kegiatan edukasi gempabumi dan tsunami ini ditujukan kepada para siswa SD dan SMP di Kota Bengkulu berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Kota Bengkulu dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bengkulu.

“Kegiatan sosialisasi ini harus dilakukan secara terus menerus dan dilakukan secara teratur agar para siswa meningkat kesadaran dan pengetahuan upaya mitigasi gempabumi dan tsunami,” ujarnya.

Akhmad menuturkan, Tim Edukasi Bencana Geologi telah berada di Kota Bengkulu pada hari Minggu tanggal 10 November 2019, dan menyelesaikan tugasnya pada tanggal 15 November 2019. Kota Bengkulu merupakan salah wilayah rawan bencana gempabumi dan tsunami di Indonesia.

“Sumber gempabumi di Kota Bengkulu ini berasal dari zona subduksi di laut dan sesar aktif di darat, sedangkan sumber pembangkit tsunami berasal dari megathrust yang merupakan bagian atas zona subduksi. Dalam kurun waktu dua puluh tahun terakhir telah terjadi dua bencana gempabumi dan tsunami di daerah ini,” jelas Akhmad.

Penanggulangan Bencana

Tidak ada yang dapat memperkirakan dengan pasti kapan dan dimana lokasi bencana gempabumi dan tsunami akan terjadi, sehingga upaya terbaik untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa dan harta benda perlu dilakukan melalui upaya mitigasi.

Kota Bengkulu diguncang gempabumi dan tsunami pertama pada tanggal 4 Juni 2000 berkekuatan M 7,9 yang mengakibatkan 100 orang meninggal dunia. Kejadian kedua terjadi pada tanggal 12 September 2007 dengan kekuatan atau magitudo M 8,4 yang mengakibatkan 14 orang meninggal dunia, tsunami di pantai Bengkulu Selatan dan Muko-Muko dengan tinggi rendaman di darat (flow depth) berkisar 40 cm hingga 100 cm, serta landaan ke darat (run up distance) berkisar 50 m hingga 400 m. Beruntung kejadian gempabumi tersebut tidak mengakibatkan tsunami besar.

“Edukasi bencana geologi dilakukan di empat sekolah mencakup pemaparan materi tentang gempabumi dan tsunami, permainan gempabumi (terdiri dari dua jenis, yaitu poster upaya mitigasi gempabumi dan tas siaga bencana) serta simulasi pada saat terjadi gempabumi ketika siswa sedang belajar atau berada di dalam ruangan,” jelas Akhmad.

Akhmad berharap dengan dilakukannya edukasi bencana geologi ini akan dapat memberikan pemahaman kepada para pelajar tingkat SD dan SMP di Kota Bengkulu tentang gempabumi dan tsunami serta upaya mitigasinya.

“Tujuannya adalah untuk meningkatkan kapasitas siswa tentang gempabumi dan tsunami. Pada saat terjadi gempabumi dan tsunami, para siswa diharapkan dapat mengaplikasikan ilmu yang telah diperoleh. Dengan dipahaminya pengertian dan tata cara menyelamatkan diri pada saat terjadi gempabumi dan tsunami, diharapkan kepanikan dan korban akibat kejadian gempabumi dan tsunami di kemudian hari dapat diminimalisir,” tutup Akhmad.