Tingkatkan Ekonomi Nasional, Bisnis Petrokimia Terus Didorong

Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto. (Foto: Kemenperin)

Jakarta – Sebagai salah satu industri hilir migas, bisnis petrokimia bakal terus didorong peningkatannya. Hal ini seturut untuk meningkatkan pula dampak multiplier output perekonomian nasional dalam pengelolaan dan pemanfaatan migas. Terlebih selama ini migas lebih dimandatkan sebagai bahan bakar kendaraan, bukan sebagai bahan baku petrokimia.

Oil and gas masih penting, the future is petrochemical (petrokimia). Minyaknya dimanfaatkan untuk petrokimia, banyak turunan yang bisa dibikin dari minyak bumi tersebut,” papar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan dalam rilis resmi Kementerian ESDM.

Dijelaskan Menteri Jonan, ketergantungan banuak usaha terhadap olahan migas membuat industri petrokimia masih memiliki masa depan yang lebih cerah. Apalagi pihaknya telah menugaskan Pertamina untuk membangun refinery atau kilang pengolahan minyak bumi menjadi petrokimia. “Mau tak mau midstream ke depannya market-nya petrokimia,” kata Jonan.

Pada saat ini, tambah Jonan, kapasitas pengolahan petrokimia Pertamina hanya sebesar 700 kiloton per annum (ktpa). Namun, kapasitasnya akan bertambah secara bertahap seiring hadirnya dua kilang baru, yaitu Tuban dan Bontang, serta empat kilang eksisting hasil revitalisasi (kilang Balikpapan, Cilacap, Balongan, dan Dumai). Jika sudah rampung 2026 nanti produksi petrokimia Pertamina ditargetkan bisa mencapai sekitar 6.600 ktpa.

Bidik Investor Taiwan

Sementara itu, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) tengah bernegosiasi dengan beberapa pihak investor petrokimia dari Taiwan. Investasi itu diharapkan bisa menghasilkan tambahan etilena sebesar 1 juta ton. Investasi itu rencananya akan diarahkan ke wilayah Cilegon, Banten.

“Sejak 1998, industri kimia ini tida ada investasi besar. Saya berusaha ada investasi yang besar. Semua investasi petrokimia akan kami giring ke kluster khusus kimia di Cilegon,” terang Sekretaris Jenderal Kemenperin Achmad Sigit Dwiwahjono dalam rilis Kemenperin.

Disebutkan Sigit, ada dua pemain industri petrokimia besar yang berbasis di Taiwan, yakni Taiwan China Petroleum Corporation dan Formosa Petrochemical Corporation. Kedua pemain raksasa itu mempunyai total kapasitas produksi hampir lima juta ton etilena per tahun. Sejak 2016 sudah ada dua investasi besar di indsutri kimia, yakni oleh PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (CAP) dan PT Lotte Chemical Tital Tbk. Dengan total nilai investasi US$7 miliar.

“Investasi pada industri petrokimia akan memangkas defisit neraca berjalan secara signifikan. Sebab, impor produk petrokimia per tahun lebih dari US$20 miliar atau sekitar 30% dari total impor nasional,” jelas Sigit.

Ia memperkirakan akan ada tambahan kebutuhan tenaga kerja di industri petrokimia sekitar 6 ribu orang, dari mulai berproduksinya investasi CAP dan Lotte. Adapun CAP dan Lotte masing-masing diperkirakan akan menyerap 3 ribu tenaga kerja untuk mengoperasikan fasilitas produksi tersebut.