PT PAL Bekerja Sama dengan Indonesia Power Bangun Pembangkit Listrik Terapung

PT Indonesia Power dan PT PAL Indonesia (Persero) menandatangani kesepakatan kontrak kerja pembangunan Barge Mounted Power Plant (BMPP) bertempat di PT PLN (Persero) Kantor Pusat, Senin (30/9/2019). (Foto: Indonesia Power)

Jakarta – PT Indonesia Power dan PT PAL Indonesia (Persero) menandatangani kesepakatan kontrak kerja pembangunan Barge Mounted Power Plant (BMPP) atau pembangkit terapung untuk menerangi wilayah Indonesia Timur. Mengingat tahun 2020 daerah tersebut akan membutuhkan listrik yang cukup besar. Sedikitnya, ada tiga pembangkit terapung yang segera dibangun, yakni berkapasitas 2×60 MW dan 1×30 MW.

“Unit pembangkit terapung tersebut rencananya ditempatkan di Kolaka, Sulawesi Tenggara untuk 2×60 MW; dan di Sambelia, Nusa Tenggara Barat untuk kapasitas 1×30 MW,” terang Direktur Utama PT Indonesia Power M. Ahsin Sidqi melalui siaran persnya.

Ahsin menjelaskan, BMPP yang akan dibangun merupakan pembangkit listrik mobile dengan Dua Fuel Engine yang diintegrasikan dengan konstruksi Barge. Kemampuan mobilitas dan dimensi BMPP cocok untuk kebutuhan melistriki daerah kepulauan dan dapat bersandar di dermaga.

Sementara itu, Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero) Budiman Saleh mengatakan, BMPP memiliki keunggulan dalam fleksibilitas penggunaan bahan bakar, karena dapat dioperasikan dengan mode BBM atau gas tanpa perlu mematikan pembangkit terlebih dahulu.

“Jadi tidak akan terjadi kedip, sehingga tidak akan mengganggu pendistribusian listrik. Pembangunan BMPP akan diselesaikan PT PAL Indonesia dalam waktu 15 bulan di Workshop PT PAL Indonesia di Surabaya,” ujar Budiman.

Kapal Pembangkit Listrik Terapung PLN

Dalam memenuhi pasokan listrik dengan pembangkit listrik terapung, PT PLN (Persero) juga telah menyewa Kapal Marine Vessel Power Plant (MVPP) selama lima tahun dengan PT Karpowership Indonesia atau Karadeniz Powership asal Turki. Pengoperasiannya berlangsung sejak 2016 hingga tahun 2021.

Direktur Bisnis Regional Jawa bagian timur, Bali dan Nusa Tenggara PLN Djoko Rahardjo Abumanan mengatakan, Indonesia masih membutuhkan pembangkit listrik terapung untuk mengatasi defisit pasokan listrik di sejumlah daerah. Menurut Djoko, pihaknya masih membutuhkan aliran listrik dari MVPP. Kapal pembangkit tersebut diperlukan guna mencukupi daya di sejumlah daerah karena pembangkit listrik permanen yang belum siap.

Djoko mengatakan, MVPP diperlukan mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan dan kapal pembangkit ini bisa menjadi solusi alternatif karena bisa bergerak secara mobile. “Misalnya di Sumatra. Kalau di selatan, itu bisa karena batubara banyak di sana (bisa menggunakan PLTU). Tapi kalau yang utara, MVPP kan bisa bergerak, begitu juga untuk sejumlah kepulauan lainnya,” terangnya.