Pertamina Gandeng PLN dan LEN Industri Untuk Capai Bauran EBT

PT Pertamina bekerja sama dengan PT PLN dan PT LEN Industri dalam rangka mewujudkan capaian bauran EBT sebesar 23% pada 2025. (Foto: Pertamina)

Jakarta – Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) energi turut mengambil bagian dalam mewujudkan bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) sebesar 23% pada tahun 2025. Upaya tersebut diwujudkan dalam Heads Agreement tentang kerja sama di bidang Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Indonesia antara Pertamina, PLN, dan PT LEN Industri, Kamis (3/10/2019) di Kementerian BUMN.

“Hal ini merupakan upaya Pertamina mewujudkan energi baru terbarukan yang pada tahun 2025 bauran EBT sebesar 23%. Ini adalah komitmen Pertamina bersama dua BUMN lainnya yaitu PT Perusahaan Listrik Negara dan PT LEN Industri,” jelas Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati melalui keterangan tertulis Pertamina.

Pertamina dalam hal ini sebagai pemegang saham dalam pengembangan PLTS yang bekerja sama dengan PT PLN dan PT LEN Industri sudah memiliki pasar pertamanya, yakni seluruh BUMN. “Sebagai pasar pertama dalam pengembangan PLTS ini ialah seluruh BUMN. Selanjutnya, kami akan masuk ke pasar global, baik itu di dalam negeri maupun luar negeri,” tambahnya.

Penandatanganan Heads Of Agreement tersebut disaksikan oleh Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno. Ia mengapresiasi sinergi ketiga BUMN tersebut.

“Sejalan dengan roadmap pemanfaatan green energy di Indonesia, kerja sama ini merupakan kerja sama strategis antarperusahaan BUMN yang berdampak baik pada peningkatan kinerja masing-masing perusahaan maupun bagi negara,” terang Fajar.

Susun Peta Jalan untuk Capai Target Bauran Energi

Dalam mengejar target bauran energi tersebut, pada Juli 2019 lalu, Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi (EBTKE) tengah menyusun peta jalan (roadmap) pengembangan energi terbarukan.peta jalan ini merupakan salah satu cara agar bisa mencapai target bauran energi 23% di tahun 2025, sesuai Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) dan Paris Agreement.

Isi dari peta jalan itu mencantumkan potensi energi terbarukan di setiap daerah, regulasinya seperti apa, teknologi apa saja yang akan digunakan, dan pendanaannya. “Kondisi sekarang kan masih banyak impor minyak. Pengembangan energi terbarukan harus disegerakan,” jelas Kasubdit Pelayanan dan Pengawasan Usaha Aneka EBT Kementerian ESDM Abdi Dharma, berdasarkan keterangan tertulis pada Juli lalu.

Ia menjelaskan, pembuatan peta jalan ini berdasarkan permintaan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Diharapkan pengembangan energi terbarukan nantinya mampu mengurangi ketergantungan impor solar dan membangun pembangkit energi terbarukan.

“Diharapkan nanti di dalam peta jalan ini kami bisa mengidentifikasi daftar proyek yang akan dibuat, kapan bisa beroperasi, dan sebagai prediksi kapan untuk mulai diproses,” imbuhnya.

Berdasarkan data dari PT PLN (Persero), hingga kuartal I-2019 bauran energi baru mencapai 13,42% dari target 25%. Adapun rinciannya, untuk kapasitas PLTB yang telah terpasang yaitu 75 MW. Sedangkan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) sebesar 1.924 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 42 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) 4.947 MW.