Peringati Hari Listrik Nasional, LIKE 2019 Sukses Diselenggarakan

Dirjen EBTKE, Sutijastoto, menghadiri pembukaan acara International Conference and Learning, Innovation, Knowledge and Exhibition (LIKE) 2019 yang diselenggarakan kemarin (Senin, 21/10). (Foto: ebtke esdm)

Yogyakarta- International Conference and Learning, Innovation, Knowledge and Exhibition (LIKE) 2019 sukses diselenggarakan. Berlangsung Senin, 21/10/2019, acara ini merupakan rangkaian kegiatan peringatan Hari Listrik Nasional ke 74 tahun 2019, sekaligus konferensi internasional pertama yang diselenggarakan oleh PLN.

Tema yang diangkat yakni Technology and Policy in Energy and Electric Power, acara ini digelar selama 4 hari mulai tanggal 21-24 Oktober di Yogyakarta.

Pada kegiatan konferensi ini terdapat 116 peneliti bidang kebijakan dan teknologi energi dari 8 negara yaitu Australia, Malaysia, Taiwan, Jerman, China, Thailand, Amerika dan Vietnam yang hadir untuk menjadi pemakalah. Konferensi ini juga berkolaborasi dengan Institute of Electrical and Electronics Engineers (IEEE) dan Scientific Committee yang berasal dari UI, ITB, UGM, UNDIP, dan ITS serta menghadirkan kompetisi karya inovasi dari seluruh unit PLN.

Pada kesempatan tersebut, Dirjen Toto menyampaikan pula apresiasi atas upaya yang dilakukan PT. PLN (Persero) beserta para pemangku kepentingan di sektor ketenagalistrikan, melihat pertumbuhan kapasitas terpasang pembangkit dan rasio elektrifikasi dapat tercapai sesuai dengan harapan.

“Pada Semester I tahun 2019 kita telah mencapai rasio 98,81%. Hal ini berarti masih ada sekitar 1,19% atau sekitar 1.100.000 rumah tangga yang masih belum menikmati listrik. Untuk itu perlu dukungan semua pihak agar rasio elektrifikasi kita dapat mencapai 99,99% pada tahun 2019,“ pungkasnya.

Kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik hingga Agustus 2019 tahun 2019 mencapai 66,13 GW. Angka ini telah naik 15,72 GW dibandingkan dengan akhir 2014 sebesar 50,41 GW. Total kapasitas pembangkit listrik akan terus meningkat dengan masuknya pembangkit-pembangkit program percepatan 35.000 MW. Selain itu, Pemerintah juga memastikan agar gardu induk dan jaringan transmisi terus ditingkatkan dengan penurunan susut jaringan Listrik (Losses) sebesar 9,55% pada Semester I 2019. Peningkatan infrastruktur ini tentu mendukung peningkatan akses listrik kepada masyarakat, rasio elektrifikasi nasional.

Program Pengembangan EBTKE

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE), F.X Sutijastoto mengungkapkan bahwa tujuan utama program pengembangan EBTKE adalah bagaimana melakukan substitusi energi, yaitu penggunaan energi fosil yang mayoritas masih diimpor, untuk secara bertahap diganti dengan mulai meningkatkan penggunaan energi bersih.

Dirjen Toto menuturkan pengembangan energi bersih yang dilaksanakan Pemerintah merupakan salah satu upaya global mencegah perubahan iklim. Oleh karenanya diperlukan dukungan dan inovasi dari berbagai pihak.

“Hal ini sangat relevan dengan upaya kita pagi ini, diperlukan inovasi-inovasi dari para ahli untuk mencarikan solusi. Ini juga tantangan untuk PLN. Jadi mohon dukungan dari PLN terutama ahli-ahlinya untuk melakukan inovasi tetapi juga mengimplementasikannya secara komersial,” ujar Dirjen Toto.

Lebih lanjut Dirjen Toto menjelaskan daerah yang belum terlistriki sebagian besar berada di daerah terdepan, terluar dan tertinggal (3T).

Selain pembangunan infrastruktur EBT, di era modern ini, salah satu langkah yang akan ditempuh Pemerintah menuju pemanfaatan energi bersih adalah Program Kendaraan Listrik di Indonesia. Selain itu kehadiran kendaraan listrik juga akan menekan jumlah impor BBM.

PLN diharapkan dapat memberikan dukungan untuk kesiapan infrastruktur penunjang kendaraan listrik. Sebagai penutup, Dirjen Toto berharap melalui pertemuan tingkat internasional ini dapat menghasilkan berbagai masukan untuk program dan kebijakan di sektor ketenagalistrikan, khususnya dalam mengantisipasi datangnya era revolusi industri 4.0, serta mengikuti kecenderungan global dalam menyongsong era baru yang lebih bersih, lebih hijau dan lebih berkelanjutan melalui pembangkit EBT.