GasMin, Membantu IKM Naikan Omzet

Penyerahan dua unit GasMin berkapasitas 10 kg kepada Board of Director PT Minarak Brantas Gas, Husein, yang langsung disumbangkan kepada IKM Telur Asin UD Adon Jaya dan IKM kerupuk. (Foto: Kementerian ESDM)

Sidoarjo- GasMin (Gasifikasi Mini Batubara) menjadi salah satu alat yang bisa membantu mempercepat produksi Industri Kecil Menengah (IKM).

GasMin dikembangkan Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Batubara (Puslitbang Tekmira) Kementerian ESDM dan saat ini sudah bisa diimplementasikan untuk IKM. Gasmin genarasi pertama dirintis tahun 2007 dan teknologinya terus disempurnakan menjadi Gasmin generasi kedua, yang lebih sederhana, baik dalam bentuk fisik maupun pengoperasiannya.

Pada Maret 2019, perusahaan asal Korea, PT Uvision Daehyup Indonesia (UDI) telah menggantikan sumber energi mesin pengering cocofiber sebagai oven (dryer) dengan GasMin kapasitas 30 kg. Tingkat efisiensi GasMin pada industri ini sekitar 40 s.d. 50 persen.

Dadan Kusdiana menyerahkan dua unit GasMin berkapasitas 10 kg, kepada Board of Director PT Minarak Brantas Gas, Husein, yang langsung disumbangkan kepada IKM Telur Asin UD Adon Jaya dan IKM kerupuk.

Penyerahan gasmin hasil inovasi tersebut merupakan bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR) PT Minarak Brantas Gas, sebagai bentuk kontribusi perusahaan terhadap pengembangan ekonomi IKM.

Seiring penetapan Puslitbang Teknologi menjadi Badan Layanan Umum pada tahun 2018, GasMin mulai dipasarkan secara komersial. Para penggunanya antara lain IKM Tempe Wonosari dan industri Batik di Tasikmalaya.

Efektifitas Penggunaan GasMin

Manfaat penggunaan GasMin dijelaskan oleh beberapa pelaku usaha IKM, salah satunya Sulaiman, pemilik Industri Kecil Menengah (IKM) telur asin UD Adon Jaya di Desa Kebonsari, Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Menurutnya, perubahan positif pada industri telor asin yang dikelolanya setelah menggunakan GasMin. Kini proses pemasakan telur asin rasa udang, kepiting, dan ikan salmon yang menjadi andalan Sulaiman menjadi lebih cepat satu jam dan lebih efisien. Hal ini tentunya berimbas pada omzetnya yang mengalami peningkatan.

“Proses pemasakan telur asin sekarang menjadi lebih cepat satu jam. Pengoperasian alatnya cukup mudah dan menghasilkan sumber panas yang banyak. Rencananya mau saya manfaatkan untuk pengovenan juga,” ungkapnya, Kamis (24/10).

Tak jauh dari rumahnya, pemilik IKM kerupuk, Muarofah juga merasa terbantu dengan GasMin yang diserahkan untuk IKM-nya. “Sekarang memasak lebih cepat setelah menggunakan GasMin. Selisih waktunya cukup signifikan, sekitar 1/2 sampai 1 jam bila dibandingkan dengan kayu bakar.

Muarofah menuturkan, pada proses memasak juga tidak ada asap yang muncul,sehingga tidak mengakibatkan ketel menjadi hitam. “Ketel juga bersih, pengoperasiannya mudah, saya sudah bisa mengoperasikan sendiri,” lanjutnya.