Pemerintah Optimis Anak Bangsa Bisa Bersaing Kelola Blok Migas Nasional

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berkolaborasi dengan SKK Migas dan Pertamina menggelar acara Ngopi Ngegas X Temu Netizen XVI di Jakarta, Kamis (12/9/2019). Dalam acara tersebut disampaikan bahwa keberhasilan menjaga dan meningkatkan tingkat produksi migas oleh PT. Pertamina (Persero) menjadi nilai optimisme tersendiri bagi pemerintah. (Foto: KESDM)

Jakarta – Pemerintah berkomitmen menjadikan PT Pertamina (Persero) sebagai tuan rumah di negeri sendiri dalam pengelolaan blok migas. Sebagai BUMN, Pertamina diharapkan menjadi semakin besar dan berdaya saing sehingga mampu berkompetisi secara global, selain tetap optimal dalam melaksanakan fungsi pelayanan menyediakan energi secara merata di tanah air.

“Komitmen Pemerintah akan menjadikan operator dalam negeri sebagai tuan rumah dalam produksi hulu migas,” terang Menteri ESDM Iganius Jonan dalam rilis resmi Kementerian ESDM.

Bahkan, Pertamina juga diharapkan menjadi perusahaan kelas dunia (world class oil company) yang dapat menjalankan fungsinya sebagai BUMN dan tugas negara sebagai perpanjangan tangan pemerintah untuk kebijakan-kebijakan yang bernilai strategis serta berdampak langsung ke masyarakat. “Pemerintah ingin Pertamina menjadi National Oil Company kelas dunia yang dapat berdiri di atas kaki sendiri, itu visi kita,” katanya.

Setelah hampir 50 tahun dikelola oleh Total E&P Indonesia, terhitung mulai 1 Januari 2018, Blok Mahakam, yang saat itu merupakan blok penghasil gas bumi terbesar di Indonesia, dialihkelolakan ke Pertamina. BUMN tersebut akan mengelola mayoritas saham Blok Mahakam, dengan minimal 10% kepemilikan Pemerintah Daerah sesuai dengan aturan yang ada.

Setahun setelah itu, Pemerintah kembali mempercayakan blok minyak terbesar Indonesia, Blok Rokan untuk dialihkelolakan kepada Pertamina pada tahun 2021 nanti. Hal serupa, setelah hampir 50 tahun dikelola PT Chevron Pacific Indonesia (PT CPI). Saat ini Blok Rokan menyumbang 26% dari total produksi nasional. Dengan tambahan ini kontribusi Pertamina dalam produksi minyak nasional nantinya akan menjadi 60 persen dari yang saat ini sekitar 40 persen.

Sebelum Mahakam, pada November 2013, Pertamina juga memperoleh persetujuan pengelolaan lanjut Blok Siak Aceh, yang sebelumnya dikelola oleh PT Chevron Siak Inc. melalui Operator PT Chevron Pacific Indonesia. Selanjutnya, Pertamina memperoleh enam blok migas terminasi yaitu Sanga – Sanga, East Kalimantan dan Attaka, Southeast Sumatera, Tuban, Ogan Komering dan NSO (North Sumatera Offshore) di awal 2018.

Selang setahun kemudian, pada Februari 2019, 2 (dua) blok migas yaitu Jambi Merang dan Raja/Pendopo juga diambil alih Pertamina. Terakhir, pada 2026, Pemerintah juga mempercayakan Pertamina sebagai operator Blok Corridor, blok gas terbesar kedua di Indonesia, yang sebelumnya dioperatori oleh ConoccoPhilips (Grissik) Ltd, setelah 3 tahun masa transisi pasca kontrak berakhir di 2023.

“Ini suatu lompatan yang besar karena dalam dua tahun terakhir ini kita dapat WK terminasi yang mampu menggandakan produksi Pertamina dalam dua-tiga tahun ke depan,” ujar Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati.

PR untuk Pertamina

Pemerintah, khususnya Kementerian ESDM secara khusus merumuskan berbagai regulasi guna mengoptimalkan sumber daya manusia lokal melalui alih kelola blok migas terminasi melalui Pertamina. Sudah terdapat 12 blok migas yang sudh dan akan dikelola oleh Pertamina, yaitu Siak (2013), Mahakam (2017), Sanga – Sanga, East Kalimantan dan Attaka, Southeast Sumatera, Tuban, Ogan Komering dan NSO (North Sumatera Offshore) (2018). Selain itu, ada Jambi Merang dan Raja/Pendopo (2019), Rokan (2021) dan Blok Corridor (2026).

Dari pengelolaan domestik tersebut, Pemerintah berharap dapat meningkatkan peran nasional dan daerah dalam pengelolaan sumber daya alam, penghematan devisa dan potensi peningkatan penerimaan negara, meningkatkan efisiensi biaya operasional dan menjaga ketahanan energi dalam negeri.

Tanggung jawab besar ada di pundak Pertamina, beberapa catatan pekerjaan rumah pun mesti dilakukan oleh Pertamina agar bisa mempertahankan bahkan sanggup meningkatkan produksi migas dari blok yang dikelolanya.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto optimis, anak bangsa bisa bersaing mengelola blok migas nasional apabila siap dengan hal berikut. Pertama, kemampuan teknis yang ditunjang oleh sumber daya manusia yang kompeten. Kedua, dukungan finansial, mengingat perencanaan hanya akan terdeliver baik apabila bisa direalisasikan. Terakhir, kemampuan teknis dan finansial ini perlu didukung penguasaan teknologi. Dengan penguasaan teknologi kegiatan operasional pun akan semakin efisien.