Menyelamatkan Air Tanah Jakarta

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Andiani (kiri) dan anggota Dewan Sumber Daya Air Ully Hary Rusady menyampaikan tentang gerakan peduli air tanah dalam mini talkshow di depan Gedung Kementerian ESDM, Minggu (15/9/2019). (Foto: KESDM)

Jakarta – Kondisi air tanah Jakarta telah mengalami penurunan permukaan. Penurunan muka air tanah ini akan berkontribusi terhadap penurunan tanah Jakarta dikarenakan pemanfaatan air tanah masih dominan dimanfaatkan sebagai sumber air bagi gedung-gedung. Badan Geologi Kementerian ESDM bersama KPK, PAM Jaya, dan Pemda DKI Jakarta saat ini sedang melakukan program langkah penyelamatan air tanah untuk menjaga sumber daya alam di Jakarta.

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan Badan Geologi Andiani dalam keterangan tertulis KESDM menerangkan, program tersebut diharapkan dapat menyelesaikan permasalahan pengelolaan sumber daya air Jakarta yang selama ini menjadi permasalahan internal di pemerintah daerah dan pusat.

Selian itu, akan dibangun juga sebuah sistem informasi dan basis data sumber daya alam Jakarta yang dapat dipantau bersama, menyinergikan data pelanggan air tanah dan penggan PAM, serta langkah penertiban sumur-sumur ilegal dalam rangka penyelamatan potensi pendapatan pajak negara (pajak air tanah) yang hilang.

“Air tanah berada di pori-pori batuan yang semulanya terisi air setelah di ekstrasi menjadi kosong ketika air dipompa naik ke atas permukaan. Antar butiran di bawah tanah terjadi pemadatan, sehingga akhirnya tanah bisa ambles dan mengalami kerusakan,” terangnya.

Dijelaskan Andiani, penurunan tanah di Jakarta terjadi dengan kecepatan bervariasi. Secara umum, sisi utara lebih cepat dari pada sisi selatan. Di sisi utara (daerah Ancol), muka tanah turun hingga sekitar 7 cm per tahun didasarkan pada data peta zona kerusakan air tanah pada Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta tahun 2013 dan tahun 2018 hasil kegiatan survei dan penelitian Balai Konservasi Air Tanah.

Mengurangi Penggunaan Air Tanah

Andiani mengingatkan kepada masyarakat Jakarta, pengurangan-pengurangan air tanah yang terjadi dapat menaikkan kembali muka air tanah, meski butuh proses waktu dan tidak sampai ke posisi semula. Hal ini telah dibuktikan dengan pengurangan terhadap penggunaan air tanah di Kota Tokyo dan Bangkok.

“Bukan tidak mungkin akan terjadi juga di Jakarta jika kita mampu berusaha untuk mengurangi penggunaan air tanah. Selain itu perlu juga dibangun sumur-sumur resapan dan sumur injeksi untuk menambah volume air tanah,” kata Andiani dalam acara mini talkshow yang digelar di depan Gedung Kementerian ESDM pada Minggu (15/9/2019).

Sementara itu, salah satu anggota Dewan Sumber Daya Air Ully Hary Rusady sangat mendukung upaya Kementerian ESDM untuk terus melanjutkan gerakan peduli air tanah. Menurutnya, pentingnya air tanah sebagai sumber kehidupan harus terus diinformasikan kepada masyarakat agar lebih bijak dalam memanfaatkannya.

“Bahwa jika punahnya mata air itu tidak kelihatan seperti kebakaran hutan yang terlihat. Oleh karena itu, mari kita lestarikan air tanah dengan salah satu contoh menjaga mata air. Untuk generasi milenial juga diimbau agar mulai peduli lingkungan dengan jangan lupa mematikan keran saat tidak dipakai,” pesan Ully.