Kurangi Konsumsi BBM, Pertamina Dukung Pertumbuhan Industri Kendaraan Listrik

Menteri ESDM Ignasius Jonan dan Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati saat meresmikan Green Energy Station (GES) di kawasan SPBU Pertamina Kuningan, Jakarta Selatan. (Foto: Listrik Indonesia)

Jakarta – PT Pertamina (Persero) berkomitmen memberikan kontribusi dengan mendukung tumbuhnya industri kendaraan listrik di Indonesia, seiring kebijakan pemerintah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di masa depan. Keseriusan itu dibuktikan dengan menyediakan Green Energy Station (GES) yang siap kembali mengisi baterai kendaraan listrik di kawasan SPBU Pertamina Kuningan, Jakarta Selatan.

Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, di SPBU yang memiliki stasion pengisian baterai tersebut kini telah beroperasi empat unit charging station, di mana dua unit merupakan tipe fast charging yang mampu mengisi penuh baterai kendaraan listrik dalam waktu kurang dari 15 menit dan dua unit merupakan tipe normal charging yang memakan waktu hingga 1,5 jam pengisian untuk sebuah mobil yang berkapasitas 7,1 KWH seperti BMW i8 Roadster.

Dalam pengembangan stasiun pengisian bahan bakar listrik tersebut, lanjut Nicke, Pertamina mendapatkan dukungan penuh dari berbagai sektor seperti Kementerian ESDM, Kementerian BUMN, Kementerian Perindustrian, serta sinergi BUMN dengan Telkom dan PLN, Lembaga Pendidikan melalui UI, dan pelaku bisnis kendaraan listrik serta pelaku bisnis charging station Bosch.

“Seluruh pihak berada dalam satu visi yang sama untuk menghadirkan suatu ekosistem energi masa depan terbaik untuk Indonesia,” terang Nicke, dikutip dari laman Listrik Indonesia.

Nicke menambahkan, pada SPBU GES nantinya juga akan disediakan fasilitas swapping battery untuk menjawab kebutuhan motor listrik. Saat ini Pertamina telah bekerja sama denga GESITS untuk pengembangan motor listrik.

Percepatan Industri Kendaraan Listrik

Komitmen Pertamina dalam mendukung pertumbuhan industri kendaraan listrik tak lain untuk menekan laju impor BBM dan memperbaiki neraca perdagangan. Strategi tersebut diyakini mampu menghemat devisa negaea, utamanya saat nilai tukar rupiah terhadap dolar ikut bergejolak.

Percepatan industri kendaraan listrik diyakini menjadi suatu keniscayaan. Banyak faktor yang mendasari. Pertama, cadangan bahan bakar berbasis fosil semakin menipis. Kedua, konsumsi BBM terus meningkat. Ketiga, impor minyak dan BBM selama ini cukup menguras devisa negara.

Menurut Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto dalam rilis Kemenperin, salah satu hal penting dalam percepatan industri kendaraan listrik adalah penyiapan industri pendukungnya sehingga mampu meningkatkan nilai tambah industri di dalam negeri. Misalnya, penyiapan industri Power Control Unit (PCU), motor listrik dan baterai.

“Umumnya, produksi baterai akan sejalan dengan proses perakitannya. Memang butuh beberapa tahap. Saat ini, kita sudah punya industri bahan bakunya, kemudian kita akan siapkan industri battery cell-nya. Jadi, perlu adanya investasi,” paparnya.

Pihaknya memproyeksikan peluang bisnis industri baterai kendaraan listrik di dalam negeri akan semakin tumbuh dan berkembang. Hal ini seiring implementasi Peraturan Presiden Nomor 55 tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan.