Badan Geologi: Jaga Cekungan Air Tanah, Pengelolaan Air Tanah Harus Seimbang

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM Andiani menyampaikan sambutan dalam acara Talkshow Air Tanah dengan tema “Penyelamatan Air Tanah dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan” di Bali, Rabu (7/8). (Foto: KESDM)

Bali – Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Rudy Suhendar mengimbau eksploitasi air tanah harus dikelola dengan baik agar tidak merusak Cekungan Air Tanah (CAT). Sebab, eksploitasi air tanah yang berlebihan dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan turunnya permukaan tanah.

Hal tersebut disampaikan dalam acara Talkshow Air Tanah dengan tema “Penyelamatan Air Tanah dalam Mendukung Pengembangan Pariwisata yang Berkelanjutan” di Bali, Rabu (7/8/2019). Rudy melanjutkan, pengelolaan air tanah harus memperhatikan keseimbangan antara pemasukan dengan pengambilan. Selian itu, proses pengendalian pengambilan dan pemberian perizinan perlu dibatasi. Arah kebijakan pemerintah adalah bagaimana mengendalikan pengambilan air tanah dengan berbagai kebijakan-kebijakan yang dibuat.

“Jangan sampai terjadi seperti sekarang ini, banyak terjadi kekeringan di berbagai wilayah karena kekurangan asupan keseimbangan airnya,” terangnya, seperti dilansir dari laman resmi Kementerian ESDM.

Pengelolaan air tanah oleh pemerintah, jelas Rudy, dilakukan berdasarkan konsep one basin one management, yaitu pengelolaan air tanah di setiap cekungan air tanah dengan mengutamakan batas CAT, bukan mengutamakan batas aadministrasi derah. Sehingga dalam pengelolaannya, para pemangku kepentingan diharapkan dapat bekerja sama dengan baik agar air tanah tetap terjaga kelestariannya.

Peta CAT Jadi Acuan Pembuatan Tata Ruang

Sumber daya air, termasuk di antaranya air tanah digunakan dalam berbagai kegiatan manusia, baik untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga sehari-hari, kegiatan industri, pertanian, perikanan, jasa, termasuk diantaranya kegiatan pariwisata. Agar ketersediaan air tanah dapat terus berkelanjutan maka pengelolaan air tanah mulai dari pengambilan kebijakan, penyusunan strategi dan rencana pengelolaan serta pelaksanaan, pemantauan dan evaluasi terhadap pelaksanaan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian daya rusak air tanah harus mengacu ke Peta Cekungan Air Tanah (CAT).

Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan, Badan Geologi, Kementerian ESDM Andiani menuturkan, Peta CAT seharusnya menjadi rujukan bagi pemerintah pusat dan daerah untuk memberikan rekomendasi teknik dan perizinan yang berisi pada kedalaman berapa orang boleh mengambil air tanah dan titiknya. “Indonesia memiliki 421 cekungan air tanah. Diharapkan sebetulnya pengambilan, pengendalian, atau konservasinya berdasarkan CAT itu,” ujar Andiani.

Saat ini menurut Andiani, tata ruang yang dibuat oleh pemerintah daerah belum merujuk kepada Peta CAT yang ada dan masih belum sinkron. Pihaknya pun saat ini tidak hanya menyiapkan kelembagaann dan regulasinya, tapi juga bekerja sama dengan stakeholder, pemerintah pusat dan daerah.

Untuk daerah-daerah yang sudah mengalami kerusakaan pada CAT seperti Jakarta, sebaiknya tidak lagi menerbitkan atau mengeluarkan izin eksploitasi di lokasi yang sudah rusak agar kerusakannya tidak bertambah parah. “Untuk memperbaiki kerusakan CAT Jakarta dan Provinsi-Provinsi lain yang mengalami krisis air tanah, Badan Geologi Kementerian ESDM telah membentuk Balai Konservasi Air Tanah untuk fokus bertugas memperbaiki CAT yang ada. Balai Konservasi Air Tanah yang di Jakarta itu sudah didirikan sejak tahun 2014,” terang Andiani.

Balai Konservasi Air Tanah di Jakarta sudah melakukan pemantauan kualitas, kuantitas, pengukuran kedudukan muka air, dan pengukuran penurunan muka tanah. “Rekan-rekan juga mengumpulkan semua stakeholder untuk duduk bersama, menceritakan kondisi air tanah yang ada dan untuk merubah kebijakan pengelolaan air tanah yang ada,” lanjut Andiani.