PLN Diminta Tambah Penggunaan Bahan Bakar Ramah Lingkungan

Menteri ESDM Ignasius Jonan meminta PT PLN (Persero) untuk terus meningkatkan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan. Hal ini diungkapkan Jonan saat meresmikan 16 proyek kelistrikan yang tersebar di Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur, Kamis (25/7/2019). (Foto: KESDM)

Sumbawa – Menteri ESDM Ignasius Jonan meminta PT PLN (Persero) untuk terus meningkatkan penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, salah satunya melalui pemanfaatan bahan bakar nabati dari minyak sawit (Crude Palm Oil/CPO) yang dikenal sebagai Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Penambahan FAME selain mengurami impor BBM juga bersifat ramah lingkungan.

Jonan mengatakan, dalam membangun pembangkit yang ramah lingkungan pilihannya ada dua, menggunakan LNG yang harus membangun jetti sendiri atau menggunakan CPO. “Kalau menggunakan CPO itu manfaatnya dua, satu membantu mengurangi impor BBM atau crude sehingga membantu neraca perdagangan negara. Yang kedua, membantu mengurangi dampak polusi lingkungan, karena ini renewable,” terangnya dalam rilis Kementerian ESDM.

Jonan menambahkan, pemanfaatan CPO untuk pembangkit ini sudah diaplikasikan di berbagai negara, salah satunya di Napoli, Italia. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) di sana bahkan sudah dapat menggunakan bahan bakar 100% berbasis CPO. “Kalau (Indonesia) menggunakan ini juga bisa membantu petani-petani kita. Ada 16 juta petani-petani kelapa sawit yang bergantung kepada kita dengan membantu membeli produk mereka, tetapi yang lebih penting adalah mengurangi polusi dan impor BBM,” jelasnya.

Saat ini, PLN telah melakukan uji coba penggantian bahan bakar pada empat pembangkit listrik dengan menambahkan biodiesel berbasis minyak sawit sesuai arahan Menteri ESDM tersebut. Keempat pembangkit yang telah diujicoba adalah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Batakan 50 Megawatt (MW) di Balikpapan, Kalimantan Timur, PLTD Supa di Pare-Pare dengan kapasitas 62 MW PLTD Kanaan di Bontang, Kalimantan Timur dengan kapasitas pembangkit listrik sebesar 10 MW, dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Jayapura dengan kapasitas 10 MW di Papua.

Memperbaiki Kualitas Lingkungan

Program mandatori BBN jenis biodiesel sebagai campuran BBM jenis minyak solar pada sektor PSO, nonPSO, industri dan komersial, serta pembangkit listrik telah diluncurkan pemerintah tahun lalu. Program ini dilaksanakan untuk mendukung percepatan pengembangan energi baru dan terbarukan. Menghasilkan bahan bakar yang ramah terhadap lingkungan, menurut Jonan, sudah menjadi kewajiban sebagai warga dunia dan tanggung jawab sebagai anak bangsa.

“Kemajuan atau pertumbuhan ekonomi bangsa ini jika sebesar lima persen saja per tahun, kalau kita tidak memulai membuat bahan bakar yang ramah lingkungan, maka 25 tahun lagi polusinya akan sangat buruk. Kalau makin lama polusinya makin buruk maka tingkat kesehatan masyarakatnya juga makin terganggu dan akibatnya harapan hidup makin menurun,” ujarnya.

Jonan berharap program ini tidak hanya mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dan memberikan penghematan devisa melalui pengurangan impor solar. Program ini diharapkan juga dapat memperbaiki kualitas lingkungan, membuka lapangan kerja, serta meningkatkan pemanfaatan ekonomi sawit.