Gelaran IBEA Ke Depan Perlu Tekankan Digitalisasi Sektor Listrik

Acara halalbihahal Majalah Listrik Indonesia (MLI) bersama dewan juri IBEA di Aula Kantor Dewan Nasional (DEN), Jakarta, Jumat (28/6/2019). (Listrik Indonesia)

Jakarta – Penyelenggaraan Indonesia Best Electricity Award (IBEA) ke depan diharapkan mengalami peningkatan mutu guna memajukan sektor industri kelistrikan dan energi secara luas. Selian itu, IBEA juga didorong untuk menyikapi dan mengadopsi kemjuan teknologi digitalisasi di sektor energi dan ketenagalistrikan.

Hal tersebut dibahas dalam acara halalbihahal Majalah Listrik Indonesia (MLI) bersama dewan juri IBEA di Aula Kantor Dewan Nasional (DEN), Jakarta, Jumat (28/6/2019). Dalam acara tersebut hadir para dewan juri Tumiran (anggota DEN); Santoso Januwarsono, Ali Herman, Milton Pakpahan, Sri Andini, Supriadi Legino, Ario Soebijoko (Event Director MLI); dan Irwadhi Marzuki (Managing Director MLI).

“Pelaksanaan IBEA ke depan harus dilakukan pembenahan guna menyikapi perkembangan teknologi digital yang terus bergulir hingga saat ini dan ke depan,” tegas Tumiran.

Digitalisasi Mampu Dorong Efisiensi

Dorongan terkait digitalisasi sektor kelistrikan ini juga ditekankan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), karena dianggap bisa membantu memaksimalkan pengembangan sektor kelistrikan. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Andy Noorsaman Sommeng mengatakan, penggunaan akses digital juga dapat membantu upaya efisiensi dan peningkatan keuntungan perusahaan listrik.

“Orientasi masa depan adalah tema dan inisiatif digital di sektor ketenagalistrikan. Apabila diterapkan pada semua segmen, maka dapat memberikan manfaat bagi industri ketenagalistrikan,” ujar Andy dalam gelaran IBEA 2018 di Hotel Bidakara, Jakarta.

Ia mengimbuhkan, digitalisasi akan membantu perusahaan mengelola seluruh data pelanggan yang berukuran besar. Andy mengingatkan, saat ini data memegang peran signifikan dalam membantu penyusunan strategi bisnis perusahaan.

Ia mencontohkan PT PLN (Persero). Perusahaan milik negara itu menggunakan sistem Icon+ yang dikelola anak usahanya PT Indonesia Comnets Plus untuk dapat mencatat seluruh profil dan pola konsumsi dari 77 juta pelanggannya saat ini. Data tersebut bisa digunakan perusahaan untuk menyusun strategi bisnis yang mumpuni.

“Artinya, digitalisasi ketenagalistrikan ini merupakan bisnis yang besar karena dari itulah big data yang dimiliki PLN,” ujarnya.

Jika perusahaan bisa lebih efisien, tarif listrik bisa dijaga agar tetap terjangkau. Pada akhirnya, konsumen dan industri ketenagalistrikan juga akan diuntungkan. “Hal ini terus dilakukan agar semua lapisan masyarakat dapat menikmati listrik yang cukup dan merata sehingga roda perekonomian nasional dapat terus bergerak,” kata Andy.