16 Proyek Kelistrikan di NTB dan NTT Diresmikan, Targetkan Kenaikan Rasio Elektrifikasi

Menteri ESDM Ignasius Jonan meresmikan 16 proyek kelistrikan yang tersebar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (25/7/2019). Seluruh peresmian dipusatkan di lokasi PLTMG Sumbawa, di Desa Labuan Badas, Kecamatan Labuan Badas, Kabupaten Sumbawa, NTB. (Foto: KESDM)

Sumbawa – Menteri Energi Dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan meresmikan 16 proyek kelistrikan yang tersebar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (25/7/2019). Proyek kelistrikan yang diresmikan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Bima 50 MW, PLTMG Sumbawa 50 MW, PLTMG Maumere 40 MW di Provinsi NTB dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Sita-Borong 2×500 kW serta PLTS Maumere-Ropa-Ende 2×1 MWp di Provinsi NTT.

Jonan mengatakan, saat ini rasio elektrifikasi di NTB sekitar 97,9% dan ditargetkan akhir tahun ini meningkat menjadi 99%. Untuk itu peran serta semua pihak sangat membantu untuk merealisasikan hal tersebut. Dirinya kembali mengingatkan bahwa secara nasional saat ini sekitar 500 ribu rumah tangga tidak mampu masih belum menikmati penerangan karena tidak mampu membayar biaya sambung listrik. Untuk itu, Kementerian ESDM akan memberikan bantuan penyambungan listrik gratis bagi 2 ribu rumah tangga tidak mampu di NTB dan NTT.

Pemerintah daerah juga diminta menyisihkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) untuk penyambungan listrik gratis ini. “Ada rumah saudara-saudara kita yang belum mampu bayar biaya sambung listrik, itu bagaimana? Saya mengimbau Bapak Gubernur, Bapak Bupati untuk bisa bantu,” imbau Jonan, seperti dilansir dari situs KESDM.

Di samping pembangkit listrik, diresmikan juga proyek-proyek Saluran Udara Tegangan Tinggi (SUTT) serta Gardu Induk (GI) 70 kV & 150 kV di Provinsi NTB. Seluruh peresmian dipusatkan di lokasi PLTMG Sumbawa, di Desa Labuan Badas, Kecamatan Labuan Badas, Kabupaten Sumbawa, Provinsi NTB. Pembangunan infrastruktur pendukung ini bertujuan agar layanan listrik lebih konsisten.

Tingkatkan Rasio Elektrifikasi di NTT

Listrik telah menjadi kebutuhan hidup masyarakat yang sangat vital. Untuk itu, pemerintah melalui Kementerian ESDM terus berupaya menyediakan listrik dengan kapasitas cukup, merata, berkualitas baik, dan harga yang terjangkau. Saat ini, pemerintah berkomitmen meningkatkan rasio elektrifikasi di Provinsi NTT melalui percepatan proyek infrastruktur kelistrikan yang bersumber pada energi panas bumi.

Menurut Kepala Badan Litbang Kementerian ESDM Dadan Kusdiana, salah satu upaya percepatan yang dilakukan di antaranya dengan ditandatanganinya nota kesepahaman (MoU) studi eksplorasi dan pengeboran sumur produksi di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Mataloko.

MoU tersebut dilakukan Kementerian ESDM bersama Kepala Badan Geologi Rudy Suhendar dan Direktur Pengadaan Strategis 1 PT PLN (Persero) Sripeni Inten Cahyani. Sebelumnya BLU LEMIGAS dan PLN telah bekerja sama untuk pengadaan jasa konsultasi perhitungan losses actual regasifikasi Blok Arun dan pengadaan jasa konsultasi kajian harga gas untuk kelistrikan PLN.

PT PLN Gas dan Geothermal (PT PLN GG) sebagai anak perusahaan PT PLN (Persero) yang menangani bidang infrastruktur gas dan penyediaan tenaga listrik panas bumi, ditugasi untuk mengembangkan Wilayah Kerja Panas Bumi (WKPO) Mataloko dalam pembangunan PLTP 2,5 MW. Dengan pemanfaatan potensi panas bumi tersebut, diharapkan ke depan dapat meningkatkan rasio elektrifikasi di NTT secara signifikan.

“Seiring dengan berkembangnya wisata di wilayah tersebut, kebutuhan listrik di NTT terus meningkat. Saat ini sebagian besar kebutuhan listrik NTT masih dipasok oleh Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD),” ujar Dadan.