Upayakan Capaian Target RUEN, Dirjen EBTKE Susun Buku Road Map

Dirjen EBTKE berupaya percepatan dan mencapai target pengembangan energi baru terbarukan dan bauran energi nasional sesuai denan target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), khususnya panas bumi. (Foto: esdm.go.id)

Bogor – Untuk mengupayakan capaian target EBTKE, Direktorat Jenderal EBTKE menyusun Buku Road Map Pengembangan Panas Bumi Indonesia 2019-2030. Penyusunan ini sebagai upaya percepatan dan mencapai target pengembangan energi baru terbarukan dan bauran energi nasional sesuai denan target Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), khususnya panas bumi.

Dirjen EBTKE F.X. Sujiastoto menyampaikan, roadmap pengembangan panas bumi harus disusun secara detail, baik dari evaluasi teknis, evaluasi keekonomian, dan tata waktu masing-masing proyek PLTP. Ia mengharapkan masukan dari semua pihak terhadap kebijakan dan strategi pemerintah untuk mempercepat pengembangan panas bumi di Indonesia.

Dirjen Toto melanjutkan, target pengembangan energi panas bumi sesuai RUEN dan bauran energi ialah sebesar 7.241,5 MW. Pengembangan energi panas bumi juga mempunyai nilai pengurangan emisi karbon selain nilai ekonomis atau bisnis pengembangan panas bumi.

“Pengembangan saat ini, kita baru mencapai hampir 2.000 MW. Padahal potensinya masih cukup besar dari 11 WKP. Inilah target awal kita, bagaimana mengupayakan wilayah kerja yang ada ini bisa terimplementasi,” terangnya dalam sebuah gelaran Focus Group Discussion (FGD) di Bogor.

Lebih lanjut ia menjelaskan, di dalam Road Map ini akan dikelompokkan berdasarkan proyek. Proyek-proyek yang akan dilaksanakan itulah yang akan menyusun Road Map, dan dipastikan masing-masing proyek memiliki Road Map yang mencakup potensinya.

Aspek keekonomian dan finansial juga harus menjadi bagian dari Road Map masing-masing proyek tersebut. Secara finansial harus bisa menunjukan bahwa bisnis ini sangat variable. Hal penting lagi dari masing-masing proyek itu, lanjutnya, adalah perlu ditentukan kapan target COD (Commercial Operation Date) dan proyeksi produksinya.

“Atas dasar Road Map dari masing-masing proyek itu, kemudian kita konsolidasikan menjadi Road Map Panas Bumi Nasional. Tim penyusunan Road Map Panas Bumi diperlukan ahli-ahli teknologi, ekonomi, fiskal dari Badan Usaha untuk dapat berkontribusi dalam penyusunan buku ini,” ujar Toto.

Mengembangkan Energi Panas Bumi

Dalam konsep Buku Road Map ini, sambung Toto, kategori proyek PLTP dibagi menjadi tiga kategori, antara lain proyek eksisting, proyek pipeline, dan proyek potensial. Ia juga menyampaikan fokus pembahasan seperti harga, insentif, upaya percepatan, pengembangan panas bumi dan sistem monitoring, serta evaluasi masing-masing proyek PLTP.

Perwakilan dari Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan menyampaikan bahwa energi panas bumi sangat didorong karena karakteristiknya yang tidak intermittent dan sama handalnya sebagai base-load seperti PLTU.

“Namun dalam perencanaan kelistrikan nasional perlu dipertimbangkan nilai BPP di setiap daerah agar tarif listrik tidak naik sehingga memberatkan rakyat,” tuturnya.

Sementara itu, perwakilan dari PT. Pertamina Geothermal Energy (PGE) mengutarakan akan mengembangkan energi panas bumi untuk keperluan demand listrik pada kilang-kilang milik PT. Pertamina. Dengan penggunaan energi panas bumi untuk keperluan pada kilang-kilang ini, PT. Pertamina dapat menghemat sekira 50.000 bll/hari.

“Kami mengharapkan sistem power-wheeling dapat diterapkan pada sistem kelistrikan Indonesia,” harapnya.