Puslitbang Tekmira Pasang Simon Bageur di Perusahaan Tambang Kalsel

Pemasangan Sistem Monitoring Bahaya Lingkungan dan Kegeologian (Simon Bageur) untuk mengantisipasi bahaya lingkungan dan geologi di sekitar wilayah pertambangan. (Foto: esdm.go.id)

Jakarta – Untuk mengantisipasi bahaya lingkungan dan geologi di sekitar wilayah pertambangan, Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Tekmira Kementerian ESDM akan segera mengambil tindakan. Tindakan tersebut yaitu berupa pemasangan Sistem Monitoring Bahaya Lingkungan dan Kegeologian (Simon Bageur) di dua perusahaan tambang di Kalimantan Selatan.

Kepala Puslitbang Tekmira Hermansyah mengatakan, kedua perusahaan tambang tersebut ialah PT Jorong Barutama Greston dan PT Tanjung Alam Jaya. Para peneliti telah melakukan survei lokasi dan sejumlah parameter antara lain pengukuran tingkat keasaman, total padatan tersuspensi, level air, debit air, kadmium, zat besi, dan mangan.

Hermansyah menjelaskan, Simon Bageur akan memberikan peringatan dini dan bekerja secara cepat, akurat, serta aktual jika ada bahaya lingkungan dan geologi seperti bahaya limbah cair, air asam tambang, banjir, dan pergerakan batuan longsor di sekitar wilayah pertambangan.

“Sistem ini mampu melakukan pengukuran jarak jauh dan melaporkan hasil informasinya secara real time kepada operator. Sehingga membantu dalam pengambilan keputusan dan tindakan secara cepat dan akurat,” terangnya di Jakarta, Senin (10/6/2019).

Kecanggihan alat ini yaitu dapat membaca parameter secara otomatis dan real time. Pengoperasiannya dapat dilengkapi dengan sistem tenaga surya, sehingga dapat digunakan di daerah yang belum mendapatkan aliran listrik.

“Daerah terpencil yang tidak ada jaringan telephon 3G maupun 4G pun bisa menggunakan alat ini,” imbuh Hermansyah.

Manfaat dari Berbagai Segi

Hermansyah melanjutkan, Simon Bageur bisa memberikan manfaat dari berbagai segi. Dari segi sosial, alat ini bisa membantu masyarakat dalam mitigasi bencana. Bencana akan mudah terdeteksi, sehingga lingkungan akan mudah terjaga dan membuat masyarakat merasa aman.

Dari segi ekonomi, perusahaan yang memasang teknologi ini dapat menurunkan biaya tenaga kerja untuk pengawasan, serta biaya operasional pemakaian kapur untuk penetralisir pH sebesar Rp 268 juta per tahun.

“Setelah mengaplikasikan simon bageur, PT Jorong Barutama Greston dapat menghemat pemakaian kapur sebesar Rp 100 juta per tahun, dan penghematan tenaga kerja bisa mencapai Rp 168 juta per tahun,” ujarnya.

Sedangkan dari segi lingkungan, Hemansyah menerangkan bahwa sistem monitoring air tambang atau sistem pemantauan limbah cair pada teknologi Simon Bageur akan menjaga dan memastikan agar air tanah di sekitar tambang tidak tercemar.

“Inovasi Simon Bageur merupakan adaptasi peralatan serupa yang dijual di pasaran, namun sistemnya lebih lengkap dan terpadu, baik dari sisi pemantauan kualitas dan kuantitas air, klimatologi, meteorologi, geofisika, maupun bahaya kegeologian lainnya,” jelas Hermansyah.

Ia mengatakan, sistem ini telah diaplikasikan di berbagai perusahaan tambang di Indonesia. Teknologi ini juga tercatat telah menerima penghargaan 102 Inovasi Indonesia dari Business Inovation Center pada tahun 2010. Pihak Puslitbang Tekmira akan terus mengembangkan teknologi ini untuk dapat diterapkan di industri pertambangan dan industri lainnya di seluruh Indonesia.