Pentingnya Merawat Ketangguhan Warga Merapi saat Hadapi Krisis

Diskusi publik bertema “Merawat Ketangguhan Warga Merapi” yang diadakan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG). (Foto: merapi.bgl.esdm.go.id)

Sleman – Setahun lalu, aktivitas Gunung Merapi dinyatakan berada di tingkat waspada. Untuk itu, diperlukan komunikasi antar pemangku kepentingan dalam penanganan krisis mitigasi bencana.

Hal tersebut merupakan salah satu pokok bahasan dalam diskusi publik bertema “Merawat Ketangguhan Warga Merapi” yang diadakan oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) sebagai bagian dari satuan kerja Kementerian ESDM. Diskusi tersebut dihadiri oleh warga masyarakat lereng Merapi, pemangku kepentingan penanggulangan bencana di Yogyakarta, Dinas Pariwisata Kabupaten Sleman, tokoh masyarakat, akademisi, Basarnas, dan komunitas pemerhati Merapi.

Para narasumber dalam diskusi banyak memaparkan pengalaman dan upaya-upaya untuk merawat dan membangun ketangguhan warga Merapi dalam menghadapi krisis. Selain itu disampaikan pula strategi dalam menghadapi libur Lebaran dan akhir semester bagi siswa sekolah.

Salah satu narasumber diskusi Agung Harijoko berpendapat, penanganan mitigasi bencana apapun memerlukan komunikasi antar pemangku kepentingan agar tidak menyebabkan informasi yang simpang siur.

Ia juga mendorong agar para akademisi untuk berhimpun di BPPTKG, sehingga jika ada masukan dan pendapat bisa langsung disampaikan. Menurutnya, sumber daya yang ada perlu dihimpun untuk mengurangi resiko bencana.

“Ruang diskusi bersama antar pihak perlu dihidupkan kembali untuk bersama-sama mengurangi potensi resiko bencana,” terang geolog dan vulkanolog dari Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM ini, Selasa (21/5/2019).

Living Harmony with Merapi

Pada 21 Mei 2018 lalu, aktivitas Merapi ditingkatkan menjadi waspada setelah terjadi erupsi freatik beruntun disertai munculnya gempa tremor. Seiring dengan peningkatan aktivitas ini, BPPTKG merekomendasikan agar tidak ada aktivitas manusia di dalam radius 3 kilometer dari puncak.

Dinamika aktivitas Merapi yang naik satu tingkat ini secara tidak langsung berdampak pada penghidupan masyarakat yang menempati Kawasan Rawan Bencana III.

Kepala BPBD Sleman Joko Supriyanto menyampaikan, meskipun aktivitas Merapi berada di tingkat waspada, masyarakat diimbau agar tidak terlalu khawatir dan tetap beraktivitas seperti biasanya, namun tetap meningkatkan kewaspadaan, sehingga bila sewaktu-waktu ada peningkatan aktivitas bisa menyesuaikan diri.

“Masyarakat harap jangan terlalu panik dan khawatir, namun tetap harus waspada,” imbaunya.

Sementara itu, Kepala BPPTKG Hanik Humaida menerangkan, erupsi Merapi saat ini tidak keluar dari karakternya. Di masa waspada ini merupakan kesempatan untuk meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam menghadapi bahaya Merapi. Ia berharap, semua pihak bisa bersama-sama terus hidup berdamai dengan Merapi (Living harmony with Merapi).

“Merapi memiliki sumber daya alam yang luar biasa, sehingga kita harus menghadapi Merapi dengan rasa optimis,” tutur Hanik.