Pembangunan Smelter Feronikel, Wamen Ingin Kekayaan Alam Dikelola Putra-putri Bangsa

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar ingin kekayaan alam dikelola oleh putra-putri terbaik Indonesia. (Foto: Kementerian ESDM)

Kolaka – Wakil Menteri (Wamen) Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar bersama Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Syafruddin melakukan groundbreaking fasilitas pemurnian (smelter) feronikel PT Ceria Nugraha Indotama (CNI) di Kecamatan Wolo, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, Sabtu (15/6/2019). Wamen menginginkan agar nikel tersebut dapat diolah oleh putra-putri bangsa di dalam negeri.

Arcandra mengatakan, sumber daya alam memegang peran penting dalam mendorong pembangunan nasional. Meski demikian, prinsip pemanfaatan tetap berpedoman pada Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945, yakni dikuasai oleh negara dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Lanjutnya, interpretasi dari dikuasai oleh negara maksudnya ialah bahwa kekayaan alam dikelola oleh putra-putri terbaik Indonesia, menggunakan teknologi yang dikembangkan bangsa Indonesia, pendanaan bersumber dari kemampuan dalam negeri, dan hasil pengelolaan dioptimalkan untuk kebutuhan di dalam negeri.

“Sesuai dengan amanat undang-undang, kami ingin agar nikel ini dapat diolah di dalam negeri dan memperpanjang rantai pengolahannya, sehingga bisa menghasilkan nilai tambah,” tutur Wamen dalam sambutannya.

Pembangunan fasilitas pemurnian (smelter) ini merupakan implementasi kebijakan peningkatan nilai tambah mineral di dalam negeri sebagaimana diamanatkan dalam UU No.4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara.

Pecepatan Hilirisasi Pertambangan

Lebih lanjut, Arcandra menjelaskan bahwa gorundbreaking smelter ini juga menjadi komitmen pemerintah untuk terus mendorong pelaku usaha pertambangan dalam mendukung upaya percepatan hilirisasi di sektor pertambangan. Upaya ini dimaksudkan untuk menutup gap dari cita-cita ideal dengan realitas yang ada, sehingga kebermanfataan dari sumber daya alam bisa lebih ditingkatkan.

“Inilah yang kita inginkan agar bisa menghasilkan efek nilai tambah yang lebih besar dari sekadar menjual raw material,” tambahnya.

Ia berharap, dengan dibangunnya fasilitas pemurnian di probinsi Sulawesi Tenggara ini dapat menjadi roda penggerak ekonomi daerah, khususnya di Kabupaten Kolaka dan sekitarnya. Pembangunan smelter ini, imbuhnya, akan terus diawasi oleh Kementerian ESDM dengan melakukan pengawasan kemajuan pembangunan secara berkala setiap enam bulan, dan juga ketersediaan cadangan bijih nikel untuk operasional fasilitas pemurnian.

Sementara itu, smelter tersebut ditargetkan akan mulai beroperasi pada akhir tahun 2021 dengan total nilai investasi sebesar Rp 14,4 triliun.