Kelola Pelaksanaan Uji Ketenagalistrikan, PLN Pusertif Didorong Lebih Profesional

General Manager PT PLN Pusertif Heru Sriwidodo Sari.

Jakarta – Selain menjalankan tugas utama yaitu sertifikasi di bidang ketenagalistrikan, PT PLN (Persero) Pusat Sertifikasi (Pusertif) juga memiliki tambahan ruang lingkup berupa pengelolaan pelaksanaan uji ketenagalistrikan. Adanya tambahan peran ini diharapkan PLN Pusertif dapat menjalankan pengujian di bidang tenaga listrik secara lebih profesional.

General Manager PT PLN Pusertif Heru Sriwidodo Sari menerangkan, sertifikasi yang dijalankan pihaknya telah terakreditasi secara nasional dan internasional. Lingkup kegiatan sertifikasi ini meliputi Sertifikasi Kelaikan Instalasi Pembangkit Tenaga Listrik, Sertifikasi Kelaikan Instalasi Jaringan, Sertifikasi Porduk (SPM/SNI), Sertifikasi Manajemen Mutu, Sertifikasi Manajemen Lingkungan, Sertifikasi Sistem Manajemen K3, Sertifikasi OHSAS 18001/ISO 45001, Komisioning Pembangkit dan Jaringan, Pengujian Peralatan Kelistrikan dan Kalibrasi.

“PLN Pusertif didukung lebih dari 300 tenaga listrik berpengalaman dari berbagai strata pendidikan dan disiplin ilmu,” terang Heru.

Dalam setahun terakhir, lanjutnya, PLN Pusertif telah melakukan perubahan organisasi dengan tujuan agar perusahaan dapat beradaptasi dengan lingkungan bisnisnya. Perubahan tersebut salah satunya diwujudkan dengan adanya penambahan peran PT PLN Pusertif untuk mengelola pelaksanaan pengujian ketenagalistrikan.

“PLN Pusertif sebagai unit PLN yang melaksanakan sertifikasi ketenagalistrikan juga mengalami perubahan dengan adanya tambahan ruang lingkup, yaitu mengelola pelaksanaan pengujian ketenagalistrikan. Sebelumnya ruang lingkup ini ada di PLN Balitbang,” ujar Heru.

Penerapan Sistem Manajemen K3

Keterangan terkait adanya penambahan peran PT PLN Pusertif ini diberikan Heru dalam acara Temu Pelanggan dan Multi Stake Holder Forum (MSHF), yang berlangsung di Ruang Auditorium PT PLN Kantor Pusat, Jakarta pada 25-26 Juni. Agenda rutin tahunan ini merupakan sarana untuk mendapatkan saran dan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan ke depan.

Dengan adanya penambahan ruang lingkup tersebut, imbuh Heru, PT PLN Pusertif didorong agar dapat menjalankan tugas dan pengujian di bidang ketenagalistrikan secara lebih profesional. Demi menunjang profesionalitas kerja tersebut, maka penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) menjadi fokus utama perusahaan yang juga dibahas dalam Temu Pelanggan dan MSHF 2019.

“Inti dari tema tersebut adalah penerapan SMK3 serta mewujudkan budaya K3 dan nihil kecelakaan kerja,” tuturnya.

Lebih lanjut, Heru memaparkan, SMK3 merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses, dan sumber daya manusia untuk menciptakan menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, efisien, dan efektif.

“Tentunya, hal ini sangat dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian, dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian risiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja,” paparnya.

Secara prinsip, penerapan SMK3 merupakan kewajiban bagi perusahaan yang memiliki tingkat potensi bahaya tinggi. Prinsip ini sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 50 Tahun 2012. Sehingga penerapan ini pada dasarnya memiliki tujuan utama, yakni meningkatkan efektivitas perlindungan keselamatan dan kesehatan kerja yang terencana, terukur, terstruktur, dan terintegrasi; mencegah dan mengurangi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dengan melibatkan unsur manajemen, pekerja/buruh, dan/atau serikat pekerja/serikat buruh; dan menciptakan tempat kerja yang aman, nyaman, dan efisien untuk mendorong produktivitas.

Dari tujuan penerapan SMK3 tersebut sudah sangat jelas bahwa muara dari tujuan penerapan SMK3 yaitu untuk mendorong produktivitas perusahaan. Relevansi dari tujuan-tujuan penerapan SMK3 tersebut sangat erat, karena dengan efektifnya perlindungan K3 yang terencana, terukur, terstruktur, dan terorganisasi maka potensi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja dapat dicegah dan dikurangi sehingga tercipta tempat kerja yang aman, nyaman dan efisien yang dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.