Imbau Kaidah Keselamatan Ketenagalistrikan, Dirjen Rida: Listrik Aman, Hidup Tenang

Infografis: esdm.go.id

Jakarta – Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Rida Mulyana menyampaikan bahwa masyarakat maupun industri wajib memiliki Sertifikat Laik Operasi (SLO) untuk instalasi tenaga listrik. Ia menegaskan masyarakat tidak boleh abai terhadap standar dan kaidah sebagai penentu utama dalam pemasangan listrik.

“Keseharian kita dekat dengan listrik. Semua kaidah yang menyangkut keselamatan ketenagalistrikan harus dijalankan,” tegas Rida di Jakarta, Rabu (29/5/2019).

SLO merupakan sertifikat yang menjadi bukti bahwa suatu instalasi listrik sudaj memenuhi persyaratan untuk beruperasi atau sudah layak diberik tegangan listrik. SLO memastikan instalasi listrik beroperasi sesuai dengan standar keselamatan yang berlaku. Sertifikat ini dibutuhkan sebelum instalasi dioperasikan, diawali dengan pemeriksaan dan pengujian sesuai dengan standar yang berlaku.

Menurut data Kementerian ESDM, selama tahun 2017, sebanyak 72% kebakaran terjadi disebabkan penggunaan energi listrik yang tidak mengikuti standar dan kaidah-kaidah semestinya. Rida meyakini, kejadian kebakaran yang kerap menimpa akan terminimalisir bila tingkat kepatuhan terhadap kaidah cukup tinggi.

“Minimal jika kaidah-kaidah ini diikuti, tingkat keselamatan kita lebih tinggi dan tingkat kebakaran jadi menurun,” tuturnya.

Untuk itu, ia berpesan agar setiap kegiatan usaha ketenagalistrikan wajib memenuhi ketentuan yang disyaratkan dalam peraturan perundang-undangan di bidang lingkungan hidup. Selain kewajiban memiliki SLO untuk instalasi tenaga listrik, ada beberapa kaidah yang harus diterapkan untuk keselamatan ketenagalistrikan, seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk peralatan listrik, Sertifikat Kompetensi Tenaga Teknik Ketenagalistrikan (SKTTK) bagi tenaga teknik kelistrikan, dan Sertifikat Badan Usaha (SBU) bagi badan usaha penunjang tenaga listrik.

Aman dari Bahaya Kebakaran

Berdasarkan data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta, rata-rata kebakaran listrik adalah 718 kejadian per tahun selama 2013-2018. Penyebab dari kebakaran ini didominasi dari tindakan yang tidak mengindahkan standar dan kaidah-kaidah semestinya.

Bahaya kebakaran kerap menghantui warga di pemukiman kota-kota besar di Indonesia, tak terkecuali Henry Silabaan, warga Kayumas, Pulogadung, Jakarta Timur. Bapak dari dua orang anak ini kerap dikhawatirkan oleh jalaran percikan api akibat hubungan arus listrik. Kejadian ini tentunya sangat mengganggu pemukiman di sekitar tempat tinggalnya.

Namun, semenjak instalasi listrik di rumahnya mandapatkan SLO, ia tidak pernah merasa risau lagi. Semenjak membangun rumah, Henry sudah menaruh perhatian besar terhadap pengamanan listrik. Ia tidak ingin ada masalah timbul di kemudian hari akibat keteledorannya. Ia ingin keluarganya merasa aman dan terlindungi dari bahaya kebakaran.

“Sebagai kepala keluarga, saya punya kewajiban untuk memastikan keluarga saya aman dari bahaya apapun, tak terkecuali bahaya kebakaran,” ungkap Pria 43 tahun itu.

Saat membangun rumah pun, Henry memastikan orang-orang yang memasang instalasi listrik di rumahnya adalah orang yang memang berkompeten. Ia juga tidak merasa kerepotan saat mengurus penerbitan SLO. Hanya butuh waktu paling lama tiga hari untuk tegangan rendah.

“Saya suruh instalatir yang memang punya komptenesi. PLN kan tidak melayani pemasangan listrik kalau tidak ada SLO,” imbuh Henry.