Batubara Sumber Modal Pembangunan, Pemerintah Prioritaskan untuk Domestik

Dalam acara Coaltrans Asia 2019 di Bali, Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menyampaikan bahwa pemerintah mulai memprioritaskan pasokan batubara ke dalam negeri. (Foto: Kementerian ESDM)

Nusa Dua – Batubara memainkan peran penting tidak hanya sebagai sumber pendapatan nasional tetapi juga berfungsi sebagai konstruksi modal yang lebih ekonomis. Dengan produksi batubara yang sangat besar, maka pemerintah mulai memprioritaskan pasokan batubara ke dalam negeri.

“Lima tahun yang lalu, kami lebih suka mengekspor batubara untuk mendapatkan pajak, tapi sekarang, secara perlahan namun pasti, kami mulai memprioritaskan kebutuhan domestik,” ujar Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono.

Bambang memaparkan bahwa produksi batubara tahun 2018 lalu mencapai 528 juta ton. Hal itu sangat signifikan perbedaannya dengan Perencanaan Nasional Jangka Menengah-Panjang 2015-2019, di mana produksi batubara yang direncanakan sebesar 413 juta ton.

Bambang melanjutkan, batubara memainkan peran penting tidak hanya sebagai sumber pendapatan nasional tetapi juga berfungsi sebagai konstruksi modal yang lebih ekonomis dalam memenuhi kebutuhan domestik. Paradigma penambangan batubara saat ini telah berubah, tidak lagi dipandang sebagai komoditas, tetapi lebih dianggap sebagai sumber modal pembangunan.

“Sejak tahun 2011 hingga 2017, pasar domestik telah mengalami peningkatan sebesar 27 persen setiap tahunnya. Pada tahun 2019 kami berharap untuk pasar domestik meningkat sebesar 60 persen,” imbuhnya.

Pada Senin (24/6/2019), Indonesia dipercaya menjadi tempat penyelenggaraan Coaltrans Asia 2019. Menurut Bambang, hal ini menunjukkan bahwa Indonesia masih dipercaya untuk mengadakan event berskala internasional terkait sektor batubara.

“Indonesia masih dipandang sebagai salah satu produsen dan pengekspor batubara terbesar di dunia, sehingga Indonesia dipilih (sebagai tempat penyelenggaraan Coal Trans Asia 2019),” tuturnya.

Keuntungan yang diperoleh dengan penyelenggaraan Coaltrans Asia 2019 di Indonesia, salah satunya adalah banyaknya calon investor bidang batubara yang akan mudah dalam mencari informasi tentang seluk beluk tambang batubara di Indonesia.

Lingkungan Jadi Perhatian Utama

Di samping itu, pemerintah juga terus menjaga agar pengelolaan lingkungan pertambangan batubara dan pemanfaatannya akan terus ditingkatkan. “Tantangannya menyeimbangkan antara bisnis dan konservasi. Kita concern dengan teknologi bersih. Lingkungan juga jadi perhatian utama” pungkas Bambang.

Melengkapi hal tersebut, Menteri ESDM Ignasius Jonan menegaskan bahwa pihaknya terus mendukung upaya-upaya untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup pasca kegiatan sektor ESDM. Salah satu langkah nyatanya adalah dengan menetapkan kewajiban untuk melakukan reklamasi pasca penambangan sesuai dengan persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) yang diterbitkan.

“Apabila kewajiban-kewajiban tersebut tidak dilakukan, nanti pelayanan penambangan akan dikurangi atau tidak dilayani”, ungkap Jonan.

Di samping perbaikan lingkungan hidup pasca kegiatan tambang, Kementerian ESDM juga mendorong pengurangan polusi dan menekan emisi gas buang. Pihaknya menerapkan program campuran fame (minyak CPO) ke minyak solar sebesar 20% di mana solar mewakili 2/3 dari penggunaan seluruh minyak di Indonesia.

“Itu berarti kalau dihitung dari aspek renewable-nya 2/3 dikali 20 persen jadi 13 persen”, imbuh Jonan.