Jargas Wilayah Bogor Sesuai Target

Peresmian jaringan gas dan bumi rumah tangga di Kabupaten Bogor. PGN menambah jaringan gas untuk rumah tangga dan pelanggan kecil (Jargas) untuk wilayah operasi Bogor, Serang, dan Cirebon. (Foto : pgn.co.id)

Jakarta- PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) menambah jaringan gas untuk rumah tangga dan pelanggan kecil (Jargas) untuk wilayah operasi Bogor, Serang, dan Cirebon. Dari paket pengerjaan tersebut, PGN meresmikan perampungan Jargas (27/02/2019) wilayah Bogor sesuai target pekerjaan yang dimulai sejak bulan Mei 2018.

Penambahan Jargas yang menyasar pengguna rumah tangga ini diharapkan akan meningkatkan penggunaan energi baik yang lebih terjamin dan murah. Pembangunan Jargas di wilayah Bogor, Serang, dan Cirebon itu merupakan proyek yang didanai anggaran Kementerian ESDM.

Pada tahap pengoperasian nanti, PGN akan memanfaatkan sumber gas berasal dari PT Pertamina EP, dengan volume mencapai 0,2 MMSCFD. Dalam rencana pengoperasian, Jargas tersebut akan mengaliri sebanyak 5.120 sambungan rumah atau SR, tepatnya di wilayah Kecamatan Cibinong dan Bojong Gede.

“Perluasan Jargas ini adalah upaya bersama untuk memperluas dan pemerataan pemanfaatan kekayaan alam negeri ini,” ujar Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Dilo Seno Widagdo.

Dilo mengungkapkan, sejauh ini pemerintah dan PGN bahu membahu melakukan perluasan pembangunan Jargas. Ke depan, katanya, kian banyak skema yang bisa digunakan untuk merealisasikan pembangunan Jargas.

“Gas merupakan energi masa depan yang sangat membantu kehidupan masyarakat. Indonesia melalui PGN mempunyai potensi besar sebagai penyangga dan pelayan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Di sisi lain, terdapat beberapa keunggulan gas pipa, khususnya yang didistribusikan PGN, antara lain berasal dari kekayaan gas bumi di dalam negeri. Artinya, dari sisi makro, penggunaan gas pipa bagi konsumsi rumah tangga, tak membebani neraca perdagangan lantaran impor gas yang terjadi pada gas elpiji.

Keunggulan lain khusus konsumen rumah tangga, akan menghemat ongkos penggunaan gas, dikarenakan tarif per kubik gas PGN lebih murah. “Harga memang berbeda dengan Elpiji 3kg,” tegas Dilo.

Gas pipa yang dijajakan PGN merupakan jenis gas metana berbobot jenis ringan, sehingga cepat dan gampang menguap, minim risiko kebakaran. Sedangkan gas Elpiji merupakan gas propana dengan bobot massa lebih berat, mudah tersulut.

“Keunggulan-keunggulan tersebut akan lebih memudahkan masyarakat mengakses energi baik yang lebih ramah lingkungan, dan penggunaan gas inipun membantu kemandirian energi nasional,” tutup Dilo.

Rencana LNG untuk Jargas

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) tengah mengoptimalkan konektivitas gas melalui program utilisasi gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) berkapasitas kecil untuk melengkapi penyaluran jaringan gas (jargas). Salah satunya dengan mengupayakan penggunaan LNG untuk penyaluran jargas.

“Ke depan, kalaupun tidak ada sumber gas dan pipa yang mengalir, kita akan gunakan LNG,” ungkap Direktur Jenderal Migas Djoko Siswanto pada Senin (11/03/2019).

Djoko mengungkapkan sejak 2009 hingga 2018 sudah ada 40 kabupaten/kota di Indonesia yang tersambung jargas dengan 325.773 Sambungan Rumah (SR) yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Sementara itu, total sambungan rumah tangga saat ini sudah mencapai 486.229 SR yang dibiayai menggunakan APBN dan Non-APBN.

Jumlah ini akan terus bertambah sesuai dengan rencana Pemerintah pada tahun 2019, dengan rencana pemasangan pada 78.216 SR.

“Rencana tahap awal ini dari hasil lelang tahun 2019 akan diputuskan besok dari dua BUMN yang memiliki skor tertinggi dan sukses stories saat membangun jargas,” kata Djoko. (Tri M)