Pertemuan ke-30 APEC, Expert Group on Energy Data and Analysis

APEC : Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) menggelar pertemuan yang ke-30 di Nusa Dua, Bali (27/2/2019). Forum kerja sama antar 21 Ekonomi di lingkar Samudera Pasifik kali ini mengangkat tema The 30th Meeting of the APEC Expert Group on Energy Data and Analysis (EGEDA). APEC tahun ini yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, berlangsung pada tanggal 26 – 28 Februari 2019. ( Foto : esdm.go.id)

Nusa Dua, Bali – Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) menggelar pertemuan yang ke-30 di Nusa Dua, Bali (27/2/2019). Forum kerja sama antar 21 Ekonomi di lingkar Samudera Pasifik kali ini mengangkat tema The 30th Meeting of the APEC Expert Group on Energy Data and Analysis (EGEDA). APEC tahun ini yang diselenggarakan di Nusa Dua, Bali, berlangsung pada tanggal 26 – 28 Februari 2019.

Menurut Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Agus Cahyono Adi Pengelolaan data yang transparan dan akuntabel merupakan salah satu indikator yang mampu meningkatkan investasi di bidang energi. Menurut Agus, melalui pengelolaan data yang baik serta adanya transparansi data, menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara yang layak investasi.

“Dengan adanya transparansi data energi, itu menjadi bukti bahwa Indonesia memiliki energy accounting yang baik. Sehingga negara-negara lain tidak perlu ragu untuk berinvestasi di Indonesia,” jelas Agus. Dengan sinkronisasi data, lanjut Agus, kebijakan yang akan dihasilkan juga akan semakin tepat sasaran.

“Forum ini juga berguna untuk masing-masing negara anggota APEC dalam mensinkronisasikan data sebagai salah satu acuan untuk menganalisa kebijakan, serta memutuskan suatu kebijakan,” imbuhnya.

Ia menyampaikan, forum AGEDA ke-30 ini menjadi kanal untuk bertukar informasi baik di bidang pengelolaan data juga teknologi di bidang energi.

“Dengan Indonesia menjadi anggota dari APEC, kita bisa saling bertukar pengalaman dengan negara-negara yang lebih maju dalam pengelolaan energinya. Sehingga nantinya kita akan lebih siap dalam menyongsong inovasi di bidang energi,” tandas Agus.

EGEDA merupakan grup ahli data energi di bawah APEC Energy Working Group (EWG) yang bertanggung jawab untuk memberikan masukan atas kebijakan yang relevan kepada APEC dan masyarakat luas melalui pengumpulan data energi anggota APEC serta mengelola basis data energi APEC melalui badan koordinasi (coordinating agency) dan mengelola The Energy Statistics and Training Office (ESTO-APERC).

Pencapaian Efisiensi Energi

Hingga saat ini energi memiliki peranan sangat penting dalam kehidupan peradaban manusia. Salah satu persoalan yang muncul dalam penggunaan energi adalah masih banyaknya penggunaan energi fosil, padahal energi ini sangat terbatas di muka bumi. Oleh karena itu perlunya efisiensi penggunaan energi di seluruh lini bidang kehidupan, termasuk pada lembaga pemerintah, swasta maupun masyarakat (Agung : 2017).

Salah satu hasil penelitian yang dilakukan, menunjukkan bahwa Indonesia tergolong negara pengguna energi yang boros. Parameter yang digunakan untuk mengukur pemborosan energi adalah elastisitas dan intensitas energi. Elastisitas energi adalah perbandingan antara pertumbuhan konsumsi energi dan pertumbuhan ekonomi. Elastisitas energi Indonesia berada pada kisaran 1,04 –1,35 dalam kurun waktu 1985 –2000, sementara negara-negara maju berada pada kisaran 0,55 –0,65 pada kurun waktu yang sama.

Sebenarnya sudah sejak lama Pemerintah Indonesia peduli dengan keadaan krisis energi yang berlarut-larut seperti sekarang terjadi. Pada tanggal 7 April 1982, melalui keluarnya Instruksi Presiden (Inpres) No. 9 tahun 1982, Pemerintah Republik Indonesia sudah mulai mengeluarkan kebijakan tentang Penghematan/Konservasi Energi. Inpres ini terutama ditujukan terhadap pencahayaan gedung, AC, peralatan dan perlengkapan kantor yang menggunakan listrik, dan kendaraan dinas.

Oleh karena itu,penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk selalu menjadikan hemat energi sebagai budaya di masyarakat. Dengan hemat energi maka pengeluaran pemerintah dan masyarakatakan energi bisa dikurangi, dan ini membuat energi dapat digunakan dalam waktu yang panjang dan efisien,

Pada hakekatnya Intensitas Konsumsi Energi ini adalah hasil bagi antara konsumsi energi total selama periode tertentu (satu tahun) dengan luasan bangunan. Satuan IKE adalah kWh/m2per tahun. Dan pemakaian IKE ini telah ditetapkan di berbagai negara antara lain ASEAN dan APEC. Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh ASEAN-USAID pada tahun 1987 yang laporannya baru dikeluarkan tahun 1992, target besarnya Intensitas Konsumsi Energi (IKE) listrik untuk Indonesia adalah sebagai berikut:

(Direktorat Pengembangan Energi) IKE untuk perkantoran (komersil) adalah 240 kWh/m2per tahun, pusat belanja 330 kWh/ m2per tahun, hotel/ apartemen: 300 kWh/ m2per tahun dan untuk rumah sakit: 380 kWh/ m2per tahun. Jika nilai IKE lebih rendah daripada batas bawah, maka bangunan gedung tersebut dikatakan hemat energi sehingga perlu dipertahankan dengan melaksanakan aktivitas dan pemeliharaan sesuai dengan standar prosedur yang telah ditetapkan perusahaan.