LTSHE, Tercapailah Impian Penerangan Yang Layak

Kepala Dusun V, Desa Embong Ijuk, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Irham Haris saat ditemui tim Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) pada Minggu (6/1/2019). (Humas EBTKE)

BENGKULU — Lampu Tenaga Surya Hemat Energi (LTSHE) yang dibagikan kepada masyarakat Desa Embong Ijuk, tidak sekedar memberikan penerangan pada malam hari sehingga memudahkan ativitas masyarakat, namun lebih dari itu mewujudkan impian mereka untuk memiliki penerangan yang layak.

“Alhamdulillah dapatnya bantuan keadaan di dalam rumah menjadi terang. Lebih istimewanya lagi, saya sebagai orang tua dapat melihat anak-anak giat belajar. Bisa membaca, menulis di malam hari,” ungkap bahagia Kepala Dusun V, Desa Embong Ijuk, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu, Irham Haris saat ditemui tim Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) pada Minggu (6/1/2019).

Haris menceritakan Dusun V sangat minim penerangan, tidak ada aliran listrik karena tiang listrik PLN belum masuk menjangkau wilayah dusun ini.

“Dulu, di malam hari kami kurang beraktifitas seperti anak-anak belajar. Sangat terbatas. Karena mengingat keadaan penerangan ataupun lampu. Kami masih menggunakan pelita yang terbuat dari sumbu dan kaleng berisi minyak. Ketika mati, rumah kami gelap gulita. Kadang lupa beli minyak. Sehingga aktifitas di malam hari terhambat,” kenangnya.

Semenjak ada program LTSHE dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pihaknya mencoba mengusulkan permohonan pada tahun 2016 dan dikabulkan di tahun 2018. Mewakili masyarakat, Haris mengucapkan terima kasih atas bantuan ini, atas partisipasi dari pemerintah baik dari pusat sampai ke pemerintah desa.

“Beruntungnya kami, dikarenakan bantuan ini sangat terbatas, beberapa di desa ini ada yang belum mendapatkan bantuan lampu ini,” ujar Haris.

“Sebelum ada lampu ini kami pakai lampu kaleng diisi sumbu kompor dan minyak lampu. Biaya perbulan untuk pakai pelita itu sekitar 72.000 untuk 6 liter minyak. Semenjak adanya bantuan LTSHE ini, kami merasa terbebas dari biaya pengeluaran untuk penerangan sehari-hari. Kami berterima kasih kepada Dirjen EBTKE, pemerintah pusat maupun dari desa. Berkat bantuan pemerintah dan dukungan masyarakat, tercapailah imipian kami untuk memiliki penerangan yang layak,” imbuh Haris.

Desa Embong Ijuk merupakan salah satu desa di Kabupaten Kepahiang yang mendapatkan alokasi pemasangan LTSHE pada tahun 2018, yaitu sebanyak 111 unit. Untuk Kabupaten Kepahiang secara keseluruhan mendapatkan 1.238 unit LTSHE yang tersebar di 8 desa di 2 kecamatan, yaitu Desa Kota Agung, Embong Jiuk, Embong Sido, Talang Sawah dan Sosokan Cinta Mandi yang berada di Kecamatan Bermani Ilir dan Desa Sosokan Taba, Talang Tige, dan Sosokan Baru yang berada di Kecamatan Muara Kemumu.

Pemerintah berharap LTSHE tersebut dapat bermanfaat lebih luas dalam menunjang aktivitas masyarakat dan tidak diperjualbelikan.

“Untuk LTSHE ini mudah-mudahan kedepannya tolong dimanfaatkan untuk anak-anak belajar, dan ini bisa distel: terang, setengah terang, dan agak redup. Bohlam dapat dilepas untuk menjadi senter yang berguna untuk bapak-bapak yang ingin pergi pengajian, kunjungan kematian keluarga, dan lain-lain,” ujar Inspektur Jenderal ESDM, Akhmad Syakhroza saat menyerahkan secara simbolis LTSHE kepada perwakilan masyarakat Desa Embong Ijuk.

“Tolong jaga jangan diperjualbelikan. Jadi ini adalah untuk rumah tangga. Nanti jangan dijual. Tolong ibu-ibunya kalo bapaknya jual marahin aja. Lampu ini kira-kira2 bisa 6 jam bisa hidup. Jadi sesuai namanya “hemat energi”. Garansi 3 tahun kami berikan untuk LTSHE ini. Kalau rusak kami ganti, kalo hilang tidak,” tegas Syahroza.

Syahroza juga mengungkapkan bahwa separuh dari APBN Kementerian ESDM memang dialokasikan untuk kepentingan rakyat Indonesia dalam berbagai bentuk, salah satunya LTSHE. Program pemasangan LTSHE belum dapat melayani kebutuhan seluruh wilayah di Indonesia. Namun demikian, Pemerintah akan terus berusaha memenuhi kekurangan yang masih ada secara bertahap dalam beberapa tahun kedepan.

“Kami menunggu usulan. Jangan lupa ketika mengirimkan permohonan, tembusan ke Inspektur Jenderal Kementerian ESDM. Prosesnya cepat pak. Gausah takut dengan periksa-memeriksa, semuanya kita siapkan akuntabilitasnya,” pungkas Syahroza.