Transition of Our Energi, Tantangan Energi Baru Terbarukan

Kamase UGM Seminarkan IDENERGI “Transition of Our Energy”Bertempat di Harper Mangkubumi Yogyakarta, Selasa (27/11/2018).(Aziz Abdillah)

YOGYAKARTA — Sebagai momentum 17 tahun Kamase UGM, urgensi akan kebutuhan Energi Terbarukan, Kamase mempersembahkan IDENERGI “Transition of Our Energy”. Seminar tersebut di hadiri oleh kalangan mahasiswa dan berbagai undangan.

Seminar bertema IDENERGI “Transition of Our Energy”. Dengan pembicara Nur Setianto Suroto (project Sr.Engineer PT. Pertamina Hulu Energi OSES), Dr Ery wijaya (Energy and Green Economy Senior Anayst at Climate Policy Initiative), Ari Bimo Prakoso.ph.D (Research Fellow in Photovoltaic Technology Nanyang Technology University (NTU) dan Dr.Eng M. Nur Fajri Alfata (Researcher of BuildingSciences Ministry of Public Works and Housing). Bertempat di Harper Mangkubumi Yogyakarta, Selasa (27/11/2018).

Pembicara pertama, Nur Setianto Suroto membahas tentang “Sunset in Oil Industry – End of The New Beginning?”.

“Konsumsi energi yang semakin naik akan berbanding lurus dengan energy demand yang akan selalu naik pula. Energy demand berhubungan dengan minyak bumi. Era minyak bumi selesai bukan karena minyak bumi habis,namun karena adanya era inovasi baru,” ujar Setianto.

Dari sektor energi fosil, batu bara adalah yang paling sering digunakan karena harganya yang murah, mudah dijadiakan bahan bakar namun memiliki emisi yang paling besar. Gas Alam (Natural Gas) adalah bentuk energi yang bisa disebut jembatan energi (energy bridge) yang menjembatani energi fosil dan energi terbarukan.

Energy substitution dilakukan bukan karena energinya habis namun adanya perkembangan dan inovasi yang makin lama semakin baik. Membahas transition of our energy, Natural gas membawa peran penting sebagai jembatan antara energi fosil dan energi terbarukan.

Pembicara kedua yakni Eri Wijaya membahas tentang “Human experiences as a driver of energy transition”. Renewable energy di terapkan di dunia nyata. Yang merasakan manfaat dari energi terbarukan adalah manusia. Yang terpenting bagi manusia adalah apakah ekonominya rugi atau untung.

Kandungan gas rumah kaca akan terus naik. Energi listrik akan lebih banyak digunakan untuk kedepannya dikarenakan listrik lebih praktis dibandingkan minyak dan gas.

“Transisi ke energi terbarukan dari energi fosil harus ada kemauan yang besar dari manusia itu sendiri. Mobil listrik tesla, teknologi chargingnya cukup 4-5 jam untuk jarak yang jauh. Toyota menghasilkan mobil hydrogen. Apakah teknologi ini akan mendisruptive energi?,ucap Ery

Apabila user experience meningkat, maka demand terkait renewable energy akan naik. Semakin banyak yang menggunakan energi terbarukan membuat harga bahan bakar terbarukan semakin kompetitif. Cost solar pv turun cukup signifikan 50% sejak 2014 sampai sekarang.

Pembicara Ketiga yakni Ari Bimo “Sunrush Phenomenon and the Next Solar Panel Technology”. Membahas mengenai teknologi Photovoltaics (PV), Sunrush Phenomenon adalah hal yang dijumpai saat ini. Fenomena Sunrush adalah periode dimana pengembangan energi matahari bertumbuh dengan sangat pesat.

“Pada zaman dahulu, harga PV masih tergolong sangat mahal dan membutuhkan luasan yang besar namun produksi listrik yang dihasilkan sedikit. Namun pada tahun 2000an ini perkembangan dan penggunaan teknologi PV sangat pesat, dan harganya turun drastis. Karena semakin banyak pengguna yang memakai teknologi ini maka harganya akan semakin murah,” Ujar Ari.

Indonesia menghasilkan listrik 300TWh/th berarti Indonesia membutuhkan luas lahan 55km x 55 km. Luas lahan tersebut masih kecil dibandingkan luas lahan pertanian atau perkebunan di Indonesia seperti lahan untuk kelapa sawit, tebu, dan tembakau.

Tantangan Panel surya dimasa depan terkait peningkatan efisiensi, semakin multiguna dan dapat beroperasi setiap saat. Beroperasi setiap saat adalah tantangan terbesar dari teknologi pv karena masih sangat sulit itu mengembangkan hal tersebut.

Energi surya di bumi berbentuk cahaya yang artinya mudah didapatkan dan gratis. Untuk memanen teknologi surya dan dapat mencapai harga energi surya yang murah diperlukan beberapa kriteria yaitu: efisiensi,stabilitas dan harga.

Pembicara keempat yakni Muhammad Nur Fajri Alfata, membahas tentang “energy conservation in building, a brand-new lifestyle”

Konsumsi energi terbesar adalah pada sektor industri. Untuk mencapai energy savings potensital di indonesia, profil konsumsi rumah tangga di seluruh indonesia harus di ketahui. Kebutuhan untuk cooling (AC) sangat kecil hanya 3% saja. Konsumsi energi yang cukup besar di rumah tangga adalah untuk masak dan entertainment serta lighting.

“Efek dari urbanisasi, lahan semakin sedikit, maka orang akan lebih cenderung tinggal di apartments. Hampir semua bangunan apartment menggunakan AC yang tidak memperhatikan dampak ke lingkungannya. Untuk mengetahui konsumsi energi pada bangunan diperlukan pengukuran indoor thermal environments and design problems,”ucap Fajri.

Penggunaan material yang bagus di ruangan sangat diperlukan. Energy conservation tentang design passive, pengendalian tentang desain kelembaban rumah. Hal tersebut merupakan sertifikasi,upaya penghematan energi yang dapat dilakukan.

Passive town di Kurobe, Japan. Merancang bangunan dengan seminimal mungkin energi yang digunakan. Zero energy building, BCA singapore. Teknologi terbarukan di aplikasikan pada gedung-gedung disana

Tempat yang panas dan lembab sangat cocok untuk dilakukan eksperimen seperti di Tegal. Terdapat sun shading, dan komponen yang mampu menghalangi cahaya yang terlalu banyak masuk ke bangunan dapat di maksimalkan.