Konsisten Wujudkan Ketersediaan EBT 100 Persen, Pulau Ikonik Sumba Direvitalisasi

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan Program Pengembangan Pulau Sumba sebagai Pulau Ikonis Energi Terbarukan (Sumba Iconic Island/SII).(Humas EBTK)

KANTOR ESDM, Jakarta — Pada 2025, pemerintah berupaya mewujudkan ketersediaan energi yang berasal dari energi baru terbarukan (EBT) hingga 100 persen. Bekerja sama dengan sebuah yayasan non-profit Belanda, Humanist Institute for Cooperation with Developing Countries (Hivos), sejak 2010, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) meluncurkan Program Pengembangan Pulau Sumba sebagai Pulau Ikonis Energi Terbarukan (Sumba Iconic Island/SII).

Program Pulau Ikonik Sumba (Sumba Iconic Island/SII) dimaksudkan untuk mewujudkan potensi energi baru terbarukan (EBT) yang mendorong kesejahteraan ekonomi berkeadilan jender sebagai model solusi akses energi di Indonesia.

Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi (Ditjen EBTKE) berencana merevitalisasi program pengembangan pulau Sumba sebagai pulau Ikonis Energi terbarukan (Program Sumba Iconic Island for Renewable Energy-SII) untuk mewujudkan pemerataan listrik yang berbasis energi baru dan terbarukan, terjangkau bagi masyarakat Sumba.

”Saya ingin merevitalisasi program ini, agar menjadi fokus perhatian seluruh pihak. Apa-apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi hambatan yang ada” ujar Direktur Jenderal EBTKE, Rida Mulyana saat memimpin rapat Pleno ke-13 Program SII pada Kamis (25/10/2018).

Program SII merupakan program multi pihak yang membutuhkan partisipasi dan kerja sama dari berbagai Kementrian/Lembaga, Pemerintah Daerah, Swasta dan Lembaga non-pemerintah. Oleh karenanya Rida menyerukan semua pihak untuk mengevaluasi kembali keistimewaan program ini.

“Dengan penetapan Sumba sebagai Ikonis energi terbarukan, punya privilege tidak?. Kalau punya privilege. Semua pihak harus memiliki program prioritas untuk mewujudkan target yang tercapai,” Ujarnya.

Harapannya seluruh pihak yang terlibat dalam Program SII dapat memperkuat komitmen, saling menyemangati,meningkatkan kerja sama dan mengoptimalkan segalasumber daya yang di miliki untukmewujudkan visi, misi dan cita-cita Program SII.

Rasio Peningkatan

Program SII yang di inisiasi oleh kementrian ESDM, Bapenas dan Hivos sejak tahun 2011 ini adalah salah satu wujud keberpihakan Pemerintah untuk menciptakan pemerataan pembangunan di pulau-pulau terluar dan tertinggal melalui peningkatan akses energi yang berkelanjutan.

Salah satu program pengembangan energi terbarukan yakni, biogas untuk penerangan dan memasak, kios energi, untuk pengadaan lampu SHS dan Charging Station, pembentukan unit RESCO, solar water pumping untuk irigasi pertanian, pompa Barsha untuk irigasi pertanian, smart penerangan jalan umum (PJU) dan tungku hemat energi.

Inisiasi revitalisasi muncul sebagai upaya mencari solusi atas evaluasi capaian Program SII. Walaupun rasio elektrifikasi dan bauran EBT mengalami peningkatan di Pulau Sumba karena implementasi Program SII, namun capaiannya masih jauh dibawah target yang telah ditetapkan, yaitu 95% rasio eletrifikasi pada tahun 2020.

“saat ini rasio eletrifikasi Pulau Sumba telah meningkat dari 24,5% pada tahun 2010 menjadi 50,9% dengan kontribusi energi terbarukan dalam bauran energi Sumba menjadi20,9%. Total kapasitas terpasang pembangkit EBT di Sumba mencapai 9,3 MW dan totalnilai investasi (termasuk non listrik)ebesar RP 722,4 milyar, “ Ujar Harris, Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan selaku Ketua Komite Pelaksana Program SII.

Pemerintah sendiri melalui Dirjen EBTKE telah melakakuan beberapa pertemuan untuk menyelesaikan beberapa tantangan dan hambatan yang terjadi dalam mengembangkan energi terbarukan di Pulau Sumba. Beberapa rekomendasi yang dihasilkan antara lain Investasi swasta (on-grid) di Pulau Sumba, pembentukan BUMN pengelola Pembangkit EBT di pulau Sumba.

“Saat ini merupakan waktu yang tepat untuk melihat kembali, mengevaluasi program-program di masing-masing instansi, terlebih lagi kita akan mempersiapkan penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) yang baru” Ujar Rida.

Rida juga mneyrukan pentingnya interaksi yang kuat antar pihak dan masing-masing pihak menempatkan dirinya sesuai fungsinya. Interaksi dibangun untuk memperkuat sinergitas demi mewujudakn penyediaan listrik yang merata dan terjangkau bagi masyarakat Sumba.

Dampaknya, Program ini memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat, kesehatan, pendidikan serta peningkatkan dari sektor pariwisata dan perhotelan. Dirjen EBTK mengapresiasi kerja sama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur dan Pemerintah Daerah SumbaTimur, Sumba Tengah, Sumba Barat dan Sumba Barat Daya.