Jonan Dorong Ketahanan Nasional Pada Revolusi Industri 4.0 Melalui Pengembangan Lokalisasi Industri

Bertema Ketahanan Nasional Pada Era Revolusi Industri 4.0, Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional yang akan di laksanakan pada Rabu (12/12/2018)mendatang. (PEN AAU)

YOGYAKARTA — Mengangkat tema Ketahanan Nasional Pada Era Revolusi Industri 4.0, Akademi Angkatan Udara (AAU) Yogyakarta menyelenggarakan Seminar Nasional yang akan di laksanakan pada Rabu (12/12/2018)mendatang.

Bertempat di Gedung Sabang Merauke (GSM) AAU Yogyakarta, pukul 08.00-15.30 WIB. Mengundang para Dosen dalam bidangnya yakni Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, Harry Budiharjo S, Frans Richard Kodong

Dengan keynote Speaker Ignasius Jonan, merupakan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sejak 14 Oktober 2016. Sebelumnya, Ignasius Jonan menjabat sebagai Menteri Perhubungan Indonesia sejak 27 Oktober 2014 hingga di reshuffle oleh Presiden Joko Widodo dan digantikan oleh Budi Karya Sumadi pada tangga 27 Juli 2016.

Selaras dengan Seminar Nasional yang akan di adakan oleh Akademi Angkatan Udara Yogyakarta (AAU), keterbukaan pasar industri akibat dari dampak revolusi industri 4.0 telah menghadirkan siklus tatanan baru bagi pengembangan dunia industri di dunia, termasuk minyak dan gas bumi. Kini, konsumen menjadi pemegang kendali utama dalam menentukan arah dunia bisnis daripada Pemerintah.

“Sejak Wall Street collapse di tahun 2008, dunia (industri) ini mau tidak mau akhirnya terbuka, yang menentukan akhirnya bukan Pemerintah (lagi) tapi masyarakat sebagai konsumen,” kata Menteri Jonan saat menghadiri acara International Business Summit 2018 yang diselenggarakan oleh Ikatan Alumni Institut Teknologi 10 November Surabaya (ITS) di Hotel Indonesia Kompensky Jakarta, Rabu (28/11/2018).

Siklus tersebut terjadi pada subsektor migas dimana selama ini penentuan harga jual migas telah ditentukan oleh pasar dunia bukan Pemerintah.

“Kalau harga jual kita (Pemerintah) tidak bisa menentukan, biaya produksi itu yang bisa dikendalikan,” ujar Jonan.

Kompetitif dan Efisien

Merespon perubahan tersebut yakni melalui pengembangan lokalisasi industri. Harapannya dari Ide ini dapat memunculkan produk industri yang bisa bersaing di pasar dengan tetap mempertimbangkan kualitas.

“Dengan lokalisasi industri itu produknya itu sekurangnya sama, tapi harganya lebih kompetitif bukan harganya lebih mahal,” jelas Jonan.

Jonan menilai biaya (cost) yang efisien akan menjadi aspek yang fundamental dalam menentukan kompetensi industri di masa mendatang.

“Cost itu menjadi driver yang sangat amat penting, tidak bisa yang menjadi driver itu harga jual karena banyak yang tidak bisa dikendalikan,” kata Jonan.

Salah satu bukti kompetensi dalam efisiensi biaya yang bakal diusung oleh Pemerintah adalah kehadiran motor listrik.

“Motor listrik kalau bisa diproduksi massal asal harganya sama dengan motor yang pakai mesin kombinasi. Kalau gak sama ya berat. Ini menjadi salah satu tantangan,” tegasnya.

Jonan mengamati bahwa perkembangan dunia dalam segala hal bergerak begitu cepat. Sebesar apapun perusahaan jika tak bisa mengikutinya maka kelak akan tenggelam.

“Ini saya ingin gambarkan dunia berubahnya sangat cepat. Dunia berubah, anda mau alasan apapun, oh ini karena zaman online, ya Anda harusnya pindah ke online,” pungkasnya.