Bauran Energi, Sebuah Cita Peningkatan Ketahanan Energi Nasional

Buku berjudul ‘Perspektif, Potensi dan Cadangan Energi Indonesia’ karya Kepala BPPT, Unggul Priyanto, berusaha menjawab kekhawatiran krisis energi. (Humas BPPT)

BPPT, Jakarta — Impor sektor Migas berkontribusi pada melemahnya Rupiah. Mengapa kebutuhan Migas Indonesia harus diimpor, sementara Indonesia merupakan penghasil minyak, gas, dan batubara besar di dunia? Jawabnya, konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia terus meningkat, sementara produksi minyak terus menurun dan belum adanya cadangan penyangga energi lain.

Peningkatan konsumsi BBM terjadi karena jumlah penduduk dan populasi kendaraan bermotor, baik sepeda motor maupun mobil, yang terus bertambah. Penjualan mobil pada 2017 mencapai 1,079 juta unit, atau naik hampir 150 persen dalam 10 tahun atau rata-rata 10 persen per tahun. Pada kurun yang sama, penjualan motor naik 33 persen, atau 3,3 persen per tahun. Bukan hanya itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI), setiap tahunnya, rata-rata mengkonsumsi BBM sebanyak 200 juta liter.

“Indonesia terus kita anggap sebagai penghasil minyak, gas, dan batubara yang besar di dunia. Namun, perlu kita tahu dan sadari bersama, saat ini konsumsi minyak bumi Indonesia melebihi produksi, sehingga menjadikan Indonesia sebagai importir minyak bumi. Di sisi lain, Indonesia belum memiliki cadangan penyangga energi lain yang dapat memberikan jaminan pasokan dalam waktu tertentu, apabila terjadi kondisi krisis dan darurat energi,” ujar Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Unggul Priyanto, di Kantor BPPT, Jakarta, Selasa (25/9/2018).

Unggul memberi sambutan singkat, saat peluncuran buku karyanya, berjudul Perspektif, Potensi dan Cadangan Energi Indonesia. Isu utama yang diangkat dalam buku ini adalah peningkatan ketahanan energi nasional, menyusul kekhawatiran adanya krisis energi, lantaran pola konsumsi energi dunia yang masih didominasi energi fosil dalam bentuk minyak bumi, gas, dan batubara.

BPPT, sambungnya, terus berupaya melakukan kaji terap teknologi di bidang energi, khususnya untuk menciptakan inovasi energi terbarukan, menuju cita energy mix (bauran energi).

“Contohnya, upaya mengatasi ketergantungan terhadap impor minyak dari negara tertentu saat ini, mengharuskan Indonesia untuk lebih agresif mencari sumber-sumber pasokan (energi fosil) baru dan sekali lagi perlu ditekankan, yakni melakukan perubahan mindset untuk beralih dan mendiversifikasi pemanfaatan energi baru dan terbarukan, sebagai sumber energi yang dapat diandalkan,” terangnya.

Sejak 1991, produksi minyak Indonesia terus menurun. Penyebabnya, produktivitas sumur-sumur yang ada semakin berkurang. Pada 2018, pemerintah menargetkan produksi minyak sekitar 800 ribu barel per hari. Namun, hingga akhir Juli, data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa rata-rata produksi minyak masih di kisaran 773 ribu barel. Jumlah produksi ini jauh di bawah tahun lalu yang masih di angka 949 ribu barel per hari.

Mengapa Bauran Energi?

Untuk menjawab persoalan ini, Unggul menyampaikan dua pilihan jalan, mengurangi konsumsi atau mempertahankan konsumsi BBM dengan campuran etanol (premium) atau biodiesel (solar). Pilihan pertama, jelas tidak masuk akal. Pertambahan jumlah penduduk otomatis akan meningkatkan konsumsi energi, terutama BBM. Bauran energi-lah yang paling tepat.

Brasil, misalnya, mengandalkan etanol untuk menggantikan BBM. Mereka menetapkan campuran etanol pada premium minimal 18 persen sejak 2011. Pemerintah Brasil juga mewajibkan produsen mobil untuk membuat mobil yang mampu mengadopsi bahan bakar campuran (fleksibel). Bahkan banyak kendaraan yang menggunakan 100 persen etanol.

Bagaimana dengan Indonesia? Saat ini, Pemerintah Indonesia sedang giat mengembangkan biodiesel dengan campuran 10 persen. Bahan bakar nabati yang digunakan sebagian besar berasal dari minyak kelapa sawit. Sejak 1 September 2013, pemerintah mewajibkan solar yang dijual adalah jenis biodiesel dengan persentasi 10 persen (B10). Mulai April 2015, komposisinya dinaikkan menjadi B15.

Seharusnya, B20 atau kandungan bahan bakar nabati 20 persen pada solar diberlakukan mulai 2016. Namun, hingga kini, penerapan B20 masih tertunda. Pada kurun waktu 2015 hingga awal 2018, harga bahan bakar minyak memang sangat rendah, di bawah US$ 45 per barel, sehingga harga bahan bakar nabati menjadi lebih mahal dan tidak ekonomis, karena akan mengerek naik harga biodiesel. Konsumsi bahan bakar nabati domestik pada 2017 mencapai 2,4 juta kiloliter.

Fenomena lainnya, negara-negara di seluruh dunia kini tengah berlomba melakukan riset mobil listrik, dann sebagian lainnya sudah memproduksinya. BPPT telah mengembangkan purwarupa Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) untuk kendaraan listrik.

Dukungan Positif

Peluncuran buku mendapat dukungan positif. Salah satunya, dari Anggota Komisi VII DPR RI, Kurtubi. Ia sepakat mendorong pemanfaatan semua sumberdaya energi yang ada. Menurutnya, energi bersih sangat dibutuhkan, agar generasi mendatang dapat menikmati hidup bersih.

“Kita sudah ikut Paris Agreement, dan itu sudah kita ratifikasi di DPR RI, menjadi undang-undang yang berlaku di Indonesia mengenai pengurangan pemakaian energi fosil. Kita dukung terus Energi Baru Terbarukan,” tandas Kurtubi.

Ia menyebut, nuklir harus masuk dalam sistem kelistrikan nasional, dan Komisi VII DPR RI, setuju penggunaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).