Ekspedisi Sesar Palu-Koro Proyeksikan Potensi Ekonomi Baru

Workshop Persiapan Ekspedisi Sesar Palu-Koro. (Foto: IAGI)
Workshop Persiapan Ekspedisi Sesar Palu-Koro. (Foto: IAGI)

Jakarta, ENERGI NASIONAL ** Tak sedikit potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dari Sesar Palu-Koro. Sesar yang memotong Kota Palu (Lembah Palu) dan Sungai Lariang pada segmen Sungai Koro (Lembah Koro) tersebut memiliki lajur memanjang, mulai sekitar batas perairan Laut Sulawesi dengan Selat Makassar hingga pantai utara Teluk Bone.

Panjang Sesar Palu-Koro sekira 500 kilometer, dan di darat, sesar ini mempunyai panjang sekitar 250 kilometer, mulai dari Teluk Palu memanjang ke arah selatan-tenggara hinggai pantai utara Teluk Bone.

Kamis (11/8/2016) digelar workshop persiapan Ekspedisi Sesar Palu-Koro di Gedung Dewan Energi Nasional (DEN), Jakarta. Workshop terselenggara berkat dukungan Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), Komite Eksplorasi Nasional (KEN) Kementerian ESDM, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Dirilis laman IAGI, workshop diikuti antusias oleh 45 peserta dari berbagai kalangan, baik ahli geologi, antropologi, sosial, wartawan dan para pemerhati kebencanaan nasional, dan berlangsung sehari penuh.

Peneliti LIPI, Mudrik Daryono, sebagai narasumber, mengatakan bahwa ia telah meneliti Sesar Palu-Koro untuk disertasi gelar doktornya.

“Sesar Palu-Koro dibagi tiga segmen, dan salah satu segmen berada di tengah Kota Palu yang tentu saja harus disikapi dengan serius,” ungkapnya.

Hasil penelitian ini, sambung Mudrik, belum pernah dipublikasikan, karena masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Apalagi publikasi untuk penelitian serupa harus berhati-hati, karena bisa menimbulkan keresahan atau kepanikan.

Narasumber lain dari IAGI/MAGI/Badan Geologi, Heriyadi Rachmat, menekankan bahwa potensi geowisata di wilayah Sesar Palu-Koro cukup besar. Meski demikian, perlu diingatkan, sebaiknya bukan hanya geowisata yang didorong, tetapi juga geopark.

“Karena, geopark melibatkan peran pemerintah daerah dan peran masyarakat sekitar, sehingga lebih menjamin kelestarian wilayah wisata tersebut,” ucapnya.

Heriyadi banyak menampilkan contoh-contoh geowisata dan geopark dari berbagai tempat di dunia dan di Indonesia. Ekspedisi sangat diharapkan lebih mengkaji peluang-peluang geowisata dan geopark, sehingga bisa menjadi inspirasi bagi pemerintah daerah dan pihak terkait lainnya.

Pengurangan Risiko Bencana

Pada 2014, dalam sebuah seminar ahli geologi dan ahli bencana (Seminar Nasional Jaya Giri Jaya Bahari), menghasilkan beberapa fakta penting, antara lain ada 80 sesar aktif di Indonesia yang dapat memicu gempa kecil atau kuat.

Artinya, ada banyak wilayah yang rawan gempa atau rawan bencana di Indonesia. Apa yang disampaikan oleh para ahli geologi berguna bagi penyusunan berbagai gerakan Pengurangan Risiko Bencana (PRB).

Untuk itulah, Ekspedisi Palu-Koro dibuat, yaitu salah satunya untuk menerjemahkan kajian-kajian para ilmuwan agar menjadi program PRB yang lebih komunikatif dan lebih berguna bagi masyarakat.

Beberapa aspek yang mesti dikedepankan dari wilayah yang berada di atas Sesar Palu-Koro, misalnya aspek gempa yang menghasilkan bencana, aspek geowisata atau geopark yang bisa menunjang perekonomian lokal, aspek kemasyarakatan yang rawan konflik sosial, aspek sumberdaya alam mineral, aspek sejarah dan antropologi, serta aspek ilmu pengetahuan yang lebih umum, namun berguna bagi kemanusiaan.

Ekspedisi Sesar Palu-Koro diinisiasi Perkumpulan SKALA dan Platform Nasional (Planas) untuk Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Sejak awal, ekspedisi didukung penuh oleh IAGI, lalu menyusul datang dukungan dari BPPT dan BNPB, juga KEN.