Wabup Wonogiri: Kelola Potensi Tambang, Waktunya ‘Stakeholder’ Duduk Bersama

POTENSIAL - Wonogiri adalah kabupaten dengan potensi tambang terbesar di eks-Karesidenan Surakarta. (Foto: SMP 1 Wonogiri)
POTENSIAL – Wonogiri adalah kabupaten dengan potensi tambang terbesar di eks-Karesidenan Surakarta. (Foto: SMP 1 Wonogiri)

Wonogiri, ENAS ** Mengingat potensi pertambangan yang belum dieksplorasi maksimal di Kabupaten Wonogiri, waktunya stakeholder duduk bersama, menggagas banyak hal, mulai regulasi hingga praktik penambangan yang ramah lingkungan.

“Selain merupakan satu-satunya pemerintah daerah tingkat II di eks-Karesidenan Surakarta yang memiliki pantai, Wonogiri sejak lama menyimpan potensi tambang yang luar biasa. Meski demikian, eksplorasi potensi tersebut belum dapat dikelola dengan baik, karena berbagai macam sebab,” ujar Wakil Bupati Wonogiri, Yuli Handoko, kepada ENAS, beberapa waktu lalu di kantornya.

Stakeholder yang dimaksud Wabup adalah pemerintah, masyarakat, akademisi, dan pengusaha. Dengan intensif berdialog, eksplorasi tambang daerah dapat berimplikasi positif bagi pergerakan ekonomi Wonogiri.

“Bahwa sekian waktu Wonogiri selalu punya masalah dengan kekeringan di selatan, bukan lantas menjadi hambatan untuk melakukan eksplorasi potensi lain, seperti tambang, misalnya. Dengan memaksimalkan potensi lain, bukan tidak mungkin, masalah akut menahun di Wonogiri justru malah teratasi bersamaan,” terang Yuli.

Ia menambahkan, peran media dan kampus untuk mengawal aktivitas pengolahan potensi tambang sangat dinantikan. Selain memperkuat rujukan dan dasar pengolahan, agregasi dampak akan lebih positif dibanding bila Pemda melakukannya sendiri.

“Meski di sekitaran eks-Karesidenan Surakarta belum ada kampus yang membuka jurusan pertambangan, kita bisa ke Jogja. Di sana akan kita jalin kerja sama untuk melakukan banyak hal, agar Wonogiri semakin berdaya,” paparnya.

Faktor lain yang tidak kalah penting, sambungnya, adalah perihal investasi. Menurut Yuli, ikhtiar dalam bentuk program daerah untuk menarik investasi di sektor pertambangan harus dilakukan. Meski demikian, keberlangsunan lingkungan tetap prioritas utama.

Wakil Bupati Wonogiri Yuli Handoko. (Foto: Arif Giyanto)
Wakil Bupati Wonogiri Yuli Handoko. (Foto: Arif Giyanto)

“Belajar dari yang sudah-sudah, eksplorasi tambang dengan mengabaikan lingkungan hanya akan menguntungkan sesaat. Setelah itu, selama puluhan tahun, masyarakat terdampak sengsara. Kita tidak mau seperti Belitong atau tempat serupa,” pungkas Yuli.

Kejelasan Regulasi

Sementara itu, praktisi promosi daerah, Albicia Hamzah, mengatakan, sampai sekarang, belum ada aturan daerah yang secara jelas mengatur eksplorasi potensi tambang di Wonogiri.

“Saat ini, banyak warga yang melakukan pengelolaan dan meregulasi hasil tambang secara konvensional, atau biasa disebut tambang rakyat. Pemerintah terkesan sengaja dan membiarkannya, tanpa panduaan, aturan, maupun manajemen yang terukur dan bisa dipertanggungjawabkan. Ada kesan, potensi tambang dikuasai oleh pihak-pihak tertentu,” papar tokoh kelahiran Wonogiri tersebut.

Menurut Albi, kondisi ini tentu dapat menghambat iklim investasi. Eksplorasi potensi daerah Wonogiri, khususnya pertambangan, yang sedianya dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan daerah menjadi sulit diolah karena belum adanya kontrol memadai dari pemerintah.

“Kalau aturan dan sistem tidak jelas dan tegas, bagaimana investor mau datang? Apalagi belum ada infrastruktur penunjang,” tegas Albi.

Dari aspek promosi daerah, sambungnya, ketika hal tersebut dibiarkan akan merugikan citra birokrasi dan image Wonogiri.

“Saya sangat yakin, jika potensi tambang yang ada di beberapa wilayah Wonogiri ini, mulai dari hulu hingga hilir, mulai diperhatikan secara serius dan mendapatkan perhatian khusus oleh pemerintah daerah, bukan mimpi, Wonogiri akan menjadi Freeportnya jawa tengah,” pungkasnya.

Potensi Tambang Wonogiri

Dirilis Pemkab Wonogiri, Kabupaten Wonogiri banyak memiliki potensi pertambangan, terutama bahan galian non-logam (golongan C), yaitu batu gamping, kalsit, batuan andesit, tras, pasir kuarsa, pasir batu, batu bentonit, lempung atau tanah liat, damar, kaolin, fosfat, oker, dan batu setengah permata.

Bahan galian batu gamping banyak terdapat di wilayah Kabupaten Wonogiri bagian selatan dan barat. Sumberdayanya diperkirakan sekitar 3.599 juta m3 dengan luas sebaran mencapai 4.130 ha.

Potensi batu gamping yang begitu besar ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu, Pemerintah kabupaten Wonogiri terus membuka peluang kepada para investor besar untuk mendirikan industri semen di Wonogiri. Potensi bahan baku untuk industri semen diperkirakan mencapai 100 tahun.

Batuan andesit terdapat di sebelah barat dan timur wilayah Kabupaten Wonogiri, terutama di Desa Keloran, Kepatihan, dan Pare Kecamatan Selogiri yang jumlah cadangannya mencapai sekitar 205.865.625 m3. Sedangkan yang terdapat di Kecamatan Ngadirojo, Jatiroto, Manyaran, dan Giriwoyo sumberdayanya mencapai 1.379.3000.000 m3.

Bahan galian kalsit banyak terdapat di Kecamatan Eromoko, Giriwoyo, Pracimantoro, dan Giritontro. Kalsit biasa digunakan untuk bahan pemutih, industri kaca, pakan ternak, dan bahan dasar cat.

Tanah liat atau lempung yang banyak digunakan sebagai bahan pembuatan batu bata, genteng, dan gerabah, diperkirakan memiliki luas sebaran 18.392 ha. Usaha industri batu bata, genteng, dan gerabah, terdapat hampit di tiap Kecamatan, utamanya di Kecamatan Tirtomoyo, Kismantoro, Batuwarno.

Praktisi Promosi Daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Arif Giyanto)
Praktisi Promosi Daerah, Albicia Hamzah. (Foto: Arif Giyanto)

Batu setengah permata yang terdapat di Kabupaten Wonogiri adalah jenis kalsedon, onyx, fosil kayu, agate, jasper, dan ametis. Bahan ini digunakan sebagai bahan baku perhiasan cincin, kalung, serta aneka kerajinan. Batu setengah permata banyak terdapat di Kecamatan Giriwoyo dan Karangtengah dengan luas sebaran kurang lebih 3 ha dan memiliki sumberdaya lebih kurang 1.800 m3.

Sedangkan bahan galian logam atau golongan B yang terdapat di Kabupaten Wonogiri antara lain emas, tembaga, mangan dan galena. Pertambangan jenis ini masih dikelola secara tradisional, dan baru satu perusahaan yang mendirikan pabrik pengolahan bahan galena yaitu di Kecamatan Tirtomoyo.

Bahan galian logam emas terdapat di Desa Jendi dan Keloran Kecamatan Selogiri dengan sebaran seluas 100 ha. Sumberdayanya diperkirakan sebesar 20.000 ton bijih emas. Selain itu juga terdapat di Desa Boto Kecamatan Jatiroto.

Bahan galian logam tembaga terdapat di Kecamatan Tirtomoyo dan Jatisrono. Tambang tembaga yang beroperasi sekarang ini pernah diusahakan pada saat pendudukan Belanda dan Jepang. Sedangkan logam mangan terdapat di Kecamatan Eromoko. Terakhir adalah bahan galian Galena atau timbal sulfida terdapat di Kecamatan Purwantoro.