Cadangan Dana Minim, PLTP Muara Labuh Tetap Dilanjut

Ilustrasi PLTP
Ilustrasi PLTP

Jakarta, ENERGI NASIONAL ** Kendati cadangan dana di bawah perkiraan, PT Supreme Energy tetap akan melanjutkan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Muara Labuh, Sumatera Barat. Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Rida Mulyana membenarkan bahwa cadangan uap panas bumi PLTP Muara Labuh di bawah perkiraan awal.

Pihaknya juga sudah menyetujui pembangkit ini dibangun secara bertahap. “Termasuk nanti ada renegosiasi harga agar lebih baik lagi, sehingga keekonomian proyek tercapai,” ujarnya seperti dilansir laman EBTKE, Selasa (4/11/2014).

PLTP Muara Labuh termasuk proyek program percepatan 10.000 MW tahap kedua. Kapasitas total proyek-proyek di program ini mencapai 10.047 MW. Terdiri dari PLTP mencapai 49 persen atau berkapasitas 4.925 MW. Lalu PLTU sebesar 30,1 persen (3.025 MW), PLTA sebesar 17,4 persen (1.753 MW), PLTG sebesar 280 MW, dan PLTGB sebesar 64 MW.

Presiden Direktur dan CEO Supreme Energy Triharyo Indrawan Soesilo menuturkan, pihaknya telah merampungkan pemboran seluruh sumur uap panas bumi untuk PLTP Muara Labuh. Sayangnya, cadangan uap panas bumi yang ditemukan di bawah perkiraan perusahaan, yakni hanya 70 megawatt (MW) dari target 120 MW.

Meski demikian, lanjut Triharyo, pihaknya akan tetap melanjutkan pengerjaan pembangkit listrik PLTP Muara Labuh ini. Cadangan yang ditemukan pun, disebutnya sudah diagunkan ke bank untuk mendanai konstruksi pembangkit listrik tersebut.

Namun, berbeda dari rencana awal, pengerjaan PLTP Muara Labuh akan dilakukan bertahap. “Nanti akan dibangun dulu tahap satu, setelah itu selesai baru masuk tahap 2 dan 3,” katanya.

Menurut Triharyo, saat ini pihaknya tengah berdiskusi dengan PT PLN (Persero) untuk harga listrik dari pembangkit tahap pertama PLTP Muara Labuh ini. Kesepakatan harga ini diperlukan agar Supreme bisa segera mengucurkan dana untuk selanjutnya memulai konstruksi pembangkit.

Sebelumnya, Supreme dan PLN telah meneken perjanjian jual beli listrik (power purchase agreement/PPA), ditetapkan harga listriksebesar US$ 9,4 sen per kilowatt hour (kWh). Namun, harga harus dinegosiasi ulang pasalnya cadangan yang ditemukan dibawah perkiraan.

“Kami ingin secepatnya bisa mengeluarkan investasi. Setelah ini, kami akan melelang EPC (rekayasan, pengadaan, konstruksi/engineering, procurement, and construction) pembangkit,” jelasnya. Saat ini, pihaknya masih menyelesaikan desain pembangkit listrik. Investasi yang sudah dikucurkan mencapai US$ 130 juta.

PLTP Muara Labuh tahap pertama ini diperkirakanmulai konstruksi sekitar kuartal kedua tahun depan. Dengan asumsi masa konstruksi 30 bulan, maka PLTP Muara Labouh tahap pertama bisa mulai beroperasi sekitar akhir 2017.

Pengembangan tahap selanjutnya, Triharyo optimis bisa menemukan tambahan cadangan uap panas bumi. Pasalnya, Supreme belum bisa masuk ke Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat. Karenanya, pihaknya tetap menargetkan kapasitas total PLTP Muara Laboh bisa mencapai 220 MW.

“Dengan Undang-Undang Panas Bumi yang baru, di mana kegiatan panas bumi tidak lagi disebut kegiatan pertambangan, kami sekarang bisa masuk ke Hutan Kerinci Seblat,” pungkas dia.