BBM Naik, Fokus untuk Pengembangan Energi Alternatif

Panel surya, energi alternatif ramah lingkungan
Panel surya, energi alternatif ramah lingkungan

Jakarta, ENERGI NASIONAL ** Pemerintah berencana akan menaikan harga BBM sebelum 2015. Dari pantauan energinasional.com, Senin (3/11/2014) pemerintah masih menggodok skenario kenaikan harga BBM, sejauh mana efek kenaikan harga BBM yang mencapai Rp 3.000 per liter.

Program pengalihan subsidi BBM merupakan satu dari prioritas Presiden Joko Widodo,

Menteri Energi Sudirman Said dalam keterangan tertulisnya mengatakan, “Kenaikan harga BBM bersubsidi dipandang dapat menyehatkan kembali anggaran negara. Namun, pemerintah masih memperhitungkan dampak kenaikan BBM pada lonjakan inflasi, kemiskinan, hingga masalah sosial.”

Sementara itu, Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Ibrahim Hasyim menanggapi positif atas kebijakan ini.

Dari laman BPH Migas, Ibrahim mengungkapkan kenaikan harga BBM bersubsidi jangan hanya dilihat untuk mengurangi konsumsi, tetapi juga sebagai upaya pengembangan energi alternatif lain yang saat ini belum bisa dikembangkan karena BBM murah.

“Kenaikan harga BBM subsidi membuat harga energi seperti bahan bakar gas dan energi lainnya menjadi ekonomis, hidup, dan berkembang. Selagi harga BBM murah maka sulit energi alternatif untuk berkembang,” kata Ibrahim.

Lanjut Ibrahim, kenaikan harga BBM harus signifikan, jangan hanya untuk memperbaiki postur anggaran. Ada yang lebih penting lagi, yaitu untuk mendorong energi alternatif lain yang memang dibutuhkan dalam rangka mengejar target energi mix nasional.

“Jadi sekali ini fokus kenaikan harga BBM lebih ditujukan untuk pengembangan energi non BBM,” tandasnya.

Diakui Ibrahim, kenaikan harga BBM pasti akan memiliki dampak dan ini selalu dibahas dan menjadi perhatian pemerintah. Tapi jangan persoalan ini terus mengemuka akhirnya permasalahan subsidi BBM tidak pernah terselesaikan. “Ketahanan energi ke depan menjadi sesuatu hal yang sangat penting seperti halnya ketahanan pangan,” jelas Ibrahim.